Jumat, 14 NOVEMBER 2025 • 14:09 WIB

Penobatan PB XIV di Keraton Solo: Ruang Ketegangan di Balik Tradisi

Author

Penobatan PB XIV di Keraton Solo: Ruang Ketegangan di Balik Tradisi

Penobatan KGPH Mangkubumi sebagai Paku Buwono (PB) XIV di Keraton Solo pada 13 November 2025 menyisakan ketidakpuasan di kalangan kerabat keluarga kerajaan. Acara yang dihadiri oleh delapan putra-putri dari PB XII dan PB XIII ini berjalan di luar agenda yang telah disepakati.

Baca juga: Manchester United Rekrut Kiper Senne Lammens di Detik Terakhir Bursa Transfer

Keputusan salah satu putra PB XII, GPH Surya Wicaksana, untuk meninggalkan acara menunjukkan ada yang tidak beres di dalam momen penting tersebut. Peristiwa ini menggambarkan dilema dan tantangan dalam proses suksesi kepemimpinan di lingkungan keraton.

Penyelenggaraan dan Kehadiran Kerabat

Acara penobatan tersebut dihadiri oleh sekitar 200 orang, termasuk enam putra-putri dari PB XII serta dua dari PB XIII. Juru bicara Maha Menteri Panembahan Agung Tedjowulan, Kanjeng Pakoenegoro, mengonfirmasi jumlah kerabat yang hadir dalam momen yang penuh tradisi ini.

Namun, kehadiran yang masif justru tidak mampu meredakan ketegangan dalam keluarga. Pengumuman penobatan KGPH Mangkubumi berlangsung secara tiba-tiba, menjadikan beberapa kerabat merasa tidak puas dengan proses yang terjadi.

GPH Surya Wicaksana, yang hadir sebagai putra dari PB XII, merasakan adanya ketidakberesan dan menganggap bahwa acara berubah menjadi sesuatu yang tidak sejalan dengan agenda awal. Hal ini menciptakan momen yang sensitif di tengah upacara yang seharusnya sakral.

Baca juga: Tragedi di Lima: Staf KBRI Zetro Leonardo Purba Tewas Ditembak

Keputusan Walk Out GPH Surya Wicaksana

GPH Surya Wicaksana, atau lebih dikenal dengan nama Gusti Nenok, memilih untuk walk out dari pertemuan saat acara beralih dari musyawarah menjadi penobatan. Ia menyatakan, "Sebelum acara selesai, saya keluar. Tepatnya tidak mau mendengar dan melihat keributan dan acara tidak sesuai dengan agenda undangan yang isinya musyawarah, bukan deklarasi PB XIV."

Keputusan ini mencerminkan keberanian Gusti Nenok dalam mengekspresikan ketidakpuasan terhadap suasana yang tidak kondusif. Ia menyebutkan, "Menyaksikan, saya menyaksikan. Jadi menyaksikan penobatan. Ini saya memikirkan ini pasti ribut," menunjukkan prediksinya akan adanya konflik.

Tindakan ini melambangkan ketidakpuasan yang lebih mendalam terkait dengan proses suksesi di dalam lingkungan keraton yang penuh tradisi dan nilai-nilai historis.

Dukungan terhadap Adanya Proses Suksesi

Setelah kejadian tersebut, Gusti Nenok menyatakan dukungan kepada Menteri Kebudayaan untuk mendiskusikan proses suksesi PB XIV. Ia percaya bahwa perlu ada pihak yang lebih netral, dalam hal ini pemerintah, untuk menengahi konflik yang muncul di keluarga keraton.

"Karena sudah yakin saya pasti ada dua raja. Yang bisa menengahi kalau ada dua belah pihak yang bersengketa ya, pemerintah. Itu saja," tegasnya. Pernyataan tersebut menunjukkan adanya harapan untuk mediasi dalam perselisihan yang terjadi.

Pernyataan dan dukungan ini memberikan gambaran bahwa proses suksesi di keraton tidak hanya melibatkan internal keluarga, tetapi juga memerlukan keterlibatan pihak luar untuk mencapai solusi yang adil dan damai.

Baca juga: Kompetisi Ketat: Manchester United dan Manchester City Berburu Kiper Baru

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU