Polisi bersinergi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital untuk memblokir situs yang diduga menginspirasi aksi peledakan di SMA 72 Jakarta. Langkah ini diambil setelah ledakan terjadi pada Jumat, 7 November 2025, yang menyebabkan 96 orang mengalami luka.
Baca juga: Pimpinan DPR RI Bertemu Mahasiswa, Bahas Isu Tunjangan dan Investigasi
Upaya pemblokiran bertujuan untuk mencegah akses terhadap konten yang memicu kekerasan dan menjaga keamanan. Dirresiber Polda Metro Jaya Kombes Roberto Pasaribu mengungkapkan bahwa berbagai situs serta media online sedang dipantau.
Pembatasan Akses Situs Terkait
Dirresiber Polda Metro Jaya Kombes Roberto Pasaribu menjelaskan bahwa langkah pemblokiran ini diambil setelah memastikan adanya konten yang dapat mengilhami tindakan kekerasan. 'Untuk semua terkait mengenai website yang sudah termonitor juga ada dari rekan Densus yang memberitahukan kepada kami saat ini kami juga sudah melakukan koordinasi dengan Komdigi,' tegasnya.
Pihak kepolisian menekankan pentingnya upaya ini dalam menjaga keamanan masyarakat dan mencegah terjadinya insiden serupa di masa mendatang. Dalam upaya tersebut, dilakukan pengawasan ketat terhadap sejumlah situs serta media sosial yang diakses oleh pelaku sebelum terjadinya ledakan.
Dengan adanya langkah ini, diharapkan tidak ada lagi kejadian serupa yang dapat merugikan banyak orang dan menciptakan rasa takut di masyarakat.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer yang Dinanti
Penyitaan Laptop dan Pengusutan Isi
Sebagai bagian dari investigasi, polisi telah menyita laptop yang diduga milik terduga pelaku. Laptop tersebut ditemukan setelah sebelumnya tidak berada di tangan pelaku saat kejadian.
'Satu buah laptop yang sempat tidak berada di tangan anak tersebut itu baru ditemukan oleh penyidik,' jelas Roberto. Kini, pihak kepolisian intens melakukan analisis terhadap isi laptop untuk menemukan informasi tambahan terkait aktivitas daring pelaku.
Pengusutan ini mencakup penelusuran situs yang pernah diakses dan tutorial yang mungkin diikuti terduga pelaku sebelum melakukan aksi kekerasan.
Inspirasi dari Kasus Kekerasan Global
Densus 88 Antiteror Polri mengungkapkan bahwa terduga pelaku diperkirakan terinspirasi oleh kasus-kasus kekerasan yang terjadi di luar negeri. 'Para pelaku kekerasan tersebut berujung pada tindakan ekstrem dan tercatat dalam pikiran terduga pelaku,' ungkap sumber kepolisian.
Keenam nama yang disebutkan oleh pihak kepolisian, seperti Eric Harris dan Brenton Tarrant, tertera pada senjata mainan yang dibawa pelaku sebelum insiden tersebut. Hal ini menunjukkan pengaruh negatif dari informasi yang beredar di internet bagi generasi muda.
Insiden di SMA 72 Jakarta memperlihatkan betapa seriusnya dampak dari informasi negatif, terutama dalam konteks kekerasan di kalangan remaja yang dapat berujung pada tindakan berbahaya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: