Senin, 10 NOVEMBER 2025 • 13:35 WIB

Penetapan Soeharto Sebagai Pahlawan Nasional: Tanggapan Keluarga dan Masyarakat

Author

Penetapan Soeharto Sebagai Pahlawan Nasional: Tanggapan Keluarga dan Masyarakat

Keluarga cendana memberikan tanggapan terkait pro dan kontra penetapan Presiden ke-2 RI Soeharto sebagai pahlawan nasional pada 10 November 2025.

Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026

Siti Hardiyanti Rukmana, atau akrab disapa Tutut Soeharto, menyatakan bahwa masyarakat kini lebih pintar dalam menilai sejarah dan peran Soeharto selama 32 tahun masa pemerintahannya.

Pro dan Kontra Penetapan Soeharto

Tutut Soeharto menuturkan bahwa masyarakat saat ini memiliki kemampuan untuk menilai tindakan Soeharto tanpa perlu adanya pembelaan dari keluarga. "Saya rasa rakyat sudah makin pintar, mas, apalagi wartawan, pintar-pintar kabeh, bisa melihat apa yang bapak lakukan, bisa menilai sendiri," ujarnya di Istana Kepresidenan Jakarta.

Ia menyatakan bahwa pro dan kontra terhadap penetapan Soeharto adalah bagian alami dari proses demokrasi. "Jadi boleh-boleh saja kok kontra tapi juga jangan ekstrem gitu, yang penting kita jaga kesatuan dan persatuan," tuturnya.

Tutut meminta kepada pihak-pihak yang tidak setuju untuk tetap mempertimbangkan jasa-jasa Soeharto selama menjabat. Ia menegaskan pentingnya memahami perjuangan Soeharto untuk kepentingan bangsa Indonesia.

Baca juga: Kunto Aji: Tanggung Jawab Anggota DPR Harus Ditegaskan

Penghargaan dan Rasa Syukur Keluarga

Dalam kesempatan tersebut, Tutut menyampaikan rasa syukur keluarga atas pengakuan yang diberikan pemerintah. Penghargaan ini diharapkan menjadi pengingat akan jasa-jasa Soeharto dalam membangun Indonesia.

Penetapan Soeharto sebagai pahlawan nasional bersamaan dengan sembilan tokoh lain, termasuk Abdurrahman Wahid dan Mochtar Kusumaatmadja, menandai momen penting dalam sejarah perpolitikan Indonesia.

Meski banyak kalangan yang menyampaikan pandangan kontra, Tutut tetap optimis bahwa masyarakat akan memberikan penilaian yang objektif. Pengakuan tersebut bukan hanya sekadar gelar, tetapi merupakan pengakuan atas kontribusi Soeharto di masa lalu.

Menyeimbangkan Pendapat dan Masyarakat Modern

Masyarakat modern diharapkan mampu mengolah informasi secara kritis, terutama mengenai sejarah pemerintahan masa lalu. Kesadaran akan pentingnya peranan sejarah dalam konteks demokrasi sangatlah krusial.

Dalam era informasi saat ini, rakyat tidak hanya menjadi konsumen berita, melainkan juga memiliki peran dalam mengevaluasi pemimpin dan kebijakan mereka. Hal ini sejalan dengan pernyataan Tutut yang percaya akan kecerdasan masyarakat.

Pro dan kontra merupakan hal yang wajar, namun pemahaman yang mendalam mengenai sejarah diharapkan dapat menjembatani perbedaan pandangan dan menciptakan dialog yang konstruktif.

Baca juga: Mengenal Finfluencer: Solusi Cerdas untuk Memahami Keuangan di Era Digital

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU