Jumat, 07 NOVEMBER 2025 • 18:04 WIB

Fenomena FOMO dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental

Author

Fenomena FOMO dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental

FOMO, atau Fear of Missing Out, telah menjadi fenomena yang semakin umum di kalangan masyarakat modern dan dapat berdampak pada kesehatan mental kita.

Baca juga: Pimpinan DPR RI Bertemu Mahasiswa, Bahas Isu Tunjangan dan Investigasi

Di tengah derasnya informasi dan media sosial, tekanan untuk terus terhubung dapat membuat kita merasa terbebani dan mengabaikan kualitas hidup.

Apa Itu FOMO dan Mengapa Bisa Terjadi?

FOMO adalah kondisi psikologis di mana seseorang merasa cemas akan kehilangan pengalaman atau kesempatan yang dialami orang lain. Istilah ini menemukan tempatnya dalam budaya populer pada tahun 2000-an, terutama seiring perkembangan media sosial.

Media sosial sangat berperan dalam menguatkan FOMO. Melihat teman yang berlibur atau melakukan aktivitas menarik dapat menciptakan rasa kekosongan dan ketidakpuasan bagi mereka yang merasa tidak ikut serta.

Selain itu, FOMO juga muncul dari rasa takut tidak diterima dalam lingkungan sosial. Individu sering merasa perlu untuk terlibat dalam berbagai kegiatan agar tidak dianggap 'kuno' atau 'ketinggalan zaman'.

Baca juga: BEM SI Kerakyatan Batalkan Demo di Jakarta Karena Kondisi Tak Kondusif

Dampak Negatif FOMO Terhadap Kesehatan Mental

FOMO berpotensi menyebabkan stres dan kecemasan berlebih. Ketika kita merasa tertekan untuk selalu mengikuti tren terkini, hal ini mengganggu kesehatan mental dan fisik.

Penelitian menunjukkan bahwa individu yang mengalami FOMO lebih cenderung merasa tidak puas dengan kehidupannya. Mereka juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah tidur dan gangguan emosional lainnya.

Lebih jauh lagi, FOMO dapat merusak hubungan sosial. Fokus pada apa yang tidak kita miliki seringkali membuat kita mengabaikan momen indah yang tengah berlangsung.

Mengatasi FOMO: Langkah Menuju Kehidupan yang Lebih Seimbang

Salah satu cara efektif mengatasi FOMO adalah dengan membatasi waktu penggunaan media sosial. Menjadwalkan waktu untuk berselancar di platform ini dapat membantu menghindari siklus perbandingan yang tidak sehat.

Memiliki hobi dan kegiatan lain di luar media sosial juga penting. Fokus pada aktivitas yang kita nikmati dapat mengurangi rasa cemas dan meningkatkan kepuasan hidup.

Selain itu, berlatih bersyukur atas apa yang dimiliki turut bermanfaat. Menyadari bahwa setiap orang memiliki jalannya masing-masing membantu mengurangi desakan untuk selalu mengikuti apa yang dilakukan orang lain.

Baca juga: 5 Kota di Indonesia yang Pas untuk Liburan Sendirian

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU