Penggunaan pewarna rambut dan alat pelurus rambut berpotensi meningkatkan risiko kanker payudara, menurut para ahli kesehatan. Paparan bahan kimia dalam produk ini dapat berkontribusi terhadap risiko kesehatan yang serius, terutama bagi perempuan.
Baca juga: DPR Hentikan Tunjangan Perumahan, Menjamin Transparansi Anggaran
Dokter onkologi radiasi, Chirag Shah, MD, mengungkapkan bahwa terdapat lebih dari 5.000 bahan kimia dalam pewarna rambut, banyak di antaranya adalah zat karsinogen yang dapat menyebabkan kanker.
Bahan Kimia dalam Pewarna Rambut dan Dampaknya
Dokter Chirag Shah menjelaskan, 'Lebih dari 5.000 bahan kimia terdapat dalam pewarna rambut, termasuk zat karsinogen yang dapat menyebabkan kanker.' Zat ini terutama meliputi amina aromatik dan senyawa seperti 3-amino-4-metoksianilin yang dianggap dapat mengganggu kadar hormon dalam tubuh.
Pewarna rambut permanen, yang mendominasi sekitar 80% pasar, diketahui mengandung bahan kimia berbahaya dalam jumlah yang lebih tinggi dibandingkan dengan pewarna semi-permanen. Hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai penggunaan jangka panjang produk tersebut.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer yang Menghebohkan
Risiko pada Profesional Kecantikan dan Penelitian Terkait
Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) menyatakan bahwa penggunaan pewarna rambut untuk penggunaan pribadi tidak dapat diklasifikasikan sebagai karsinogenik bagi manusia. Namun, IARC juga mencatat bahwa penata rambut yang sering terpapar pewarna rambut mengalami risiko lebih tinggi dan termasuk dalam kategori 'kemungkinan karsinogenik.'
Sebuah studi besar dari National Institutes of Health pada tahun 2019 menemukan bahwa perempuan yang secara teratur menggunakan pewarna rambut permanen memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan kanker payudara dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakan.
Hubungan dengan Penggunaan Catokan Rambut
Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan catokan rambut yang mengandung formaldehida juga berkontribusi pada peningkatan risiko kanker payudara. Mereka yang menggunakan catokan dalam 12 bulan sebelum penelitian memiliki risiko 18% lebih tinggi untuk mengembangkan kanker payudara.
Frekuensi penggunaan catokan menjadi faktor yang perlu diperhatikan, di mana penggunaan setiap lima hingga delapan minggu dapat meningkatkan risiko hingga 31%.
Baca juga: 5 Kota di Indonesia yang Pas untuk Liburan Sendirian
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: