Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, telah memberikan pernyataan tegas mengenai penolakan Israel terhadap pengiriman pasukan perdamaian Turki ke Jalur Gaza. Pernyataan ini muncul di tengah upaya internasional untuk mendukung proses perdamaian di kawasan tersebut.
Baca juga: Manchester United Rekrut Kiper Senne Lammens di Detik Terakhir Bursa Transfer
Sugiono menekankan pentingnya kontribusi Indonesia dalam mendukung proses perdamaian dan mendesak Israel untuk menerima kehadiran pasukan yang diusulkan oleh Turki.
Pernyataan Menlu RI Mengenai Situasi di Gaza
Dalam sebuah wawancara di Gedung Pancasila, Jakarta, Sugiono menyoroti pentingnya mengikutsertakan Indonesia dalam upaya perdamaian di Gaza. "Intinya, yang ingin kita lakukan adalah memberikan kontribusi terhadap proses perdamaian ini," ujarnya.
Dia juga menekankan bahwa semua usaha harus berada dalam kerangka mandat yang jelas dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sugiono mengharapkan tercapainya gencatan senjata yang nyata dan berkelanjutan, dengan menegaskan, "Intinya yang kita harapkan dan kita inginkan adalah, pertama, ceasefire yang benar-benar ceasefire itu terjadi."
Baca juga: Pelatih Timnas Korea Selatan U-23 Siap Hadapi Tantangan di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Kondisi Bantuan Kemanusiaan di Gaza
Sugiono juga membahas tantangan yang dihadapi dalam distribusi bantuan kemanusiaan di wilayah yang terdampak konflik. Ia menyatakan bahwa proses bantuan yang ada belum sepenuhnya berjalan sesuai harapan, sehingga memperburuk kondisi masyarakat di Gaza.
Ditegaskannya, harapan melalui proses rekonstruksi dan distribusi bantuan kemanusiaan agar dapat dilaksanakan dengan baik sesuai rencana yang telah dibicarakan sebelumnya, menegaskan komitmen Indonesia untuk berperan aktif dalam memperbaiki situasi di wilayah tersebut.
Penolakan Israel Terhadap Pasukan Perdamaian
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebelumnya menyatakan penolakan terhadap pengiriman pasukan dari Turki. Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, menyebut, "Turki yang dipimpin Erdogan, memimpin pendekatan yang bermusuhan terhadap Israel. Jadi, tak masuk akal bagi kami membiarkan pasukan bersenjata mereka memasuki Jalur Gaza."
Penolakan yang sama juga berlangsung terhadap Qatar, meskipun memiliki hubungan diplomatik dengan Hamas. Kedua negara ini berperan penting dalam upaya gencatan senjata yang dilakukan pada 10 Oktober.
Baca juga: Unisba dan Unpas Tegaskan Tidak Ada Aparat Masuk Kampus Saat Kericuhan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: