Air hujan yang jatuh di DKI Jakarta kini mencatatkan kehadiran mikroplastik, sebuah penemuan yang menyoroti kekhawatiran atas tingkat pencemaran lingkungan di kawasan urban.
Baca juga: Desta Dukung Tuntutan 17+8, Ingatkan Prabowo untuk Jalankan Janji
Fenomena ini dijelaskan secara ilmiah oleh Prof Etty Riani dari IPB University, mengungkapkan berbagai sumber yang menyuplai mikroplastik ke atmosfer.
Sumber Mikroplastik di Lingkungan Perkotaan
Menurut Prof Etty Riani dari Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, mikroplastik di Jakarta berasal dari beberapa sumber. Sumber utama pesatnya mikroplastik ini termasuk gesekan ban mobil, penguraian sampah plastik kering, serta serat bahan pakaian sintetis.
Partikel mikroplastik, terutama dalam ukuran nanoplastik yang sangat kecil, dapat dengan mudah terangkat ke atmosfer karena massa yang ringan. Dalam proses ini, mikroplastik terbawa arus angin, sebelum akhirnya jatuh ke permukaan melalui air hujan.
Hujan pada dasarnya berfungsi sebagai 'pencuci' atmosfer, sehingga mikroplastik yang biasanya tidak terlihat ini bisa mencemari air bersih yang kita gunakan.
Baca juga: BEM SI Kerakyatan Batalkan Demo di Jakarta Karena Kondisi Tak Kondusif
Faktor Lingkungan yang Memperparah Pencemaran
Prof Etty menjelaskan bahwa kondisi lingkungan, seperti suhu tinggi dan udara kering, dapat mempercepat proses pelapukan plastik. Hal ini membuat partikel halus lebih mudah terbang ke udara.
Tingginya penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari menjadi faktor kunci dalam pencemaran ini. Dari bangun tidur hingga tidur kembali, banyak produk yang menggunakan plastik dan berkontribusi terhadap penguraian plastik menjadi mikroplastik.
Kesadaran akan frekuensi penggunaan plastik sangat penting, untuk memahami dampaknya yang negatif terhadap lingkungan.
Edukasi dan Tindakan Preventif yang Diperlukan
Pentingnya edukasi masyarakat mengenai pola hidup ramah lingkungan menjadi sorotan. Prof Etty menekankan perlunya pengurangan penggunaan plastik dan menghindari produk perawatan tubuh yang mengandung mikroplastik.
Masyarakat juga diharapkan lebih bijak dalam memilah sampah sejak dari rumah dengan menerapkan prinsip 3R: reduce, reuse, recycle. Kesadaran ini bisa membantu mengurangi akumulasi plastik yang dapat membahayakan lingkungan.
Peran pemerintah juga krusial dalam penegakan kebijakan untuk mengurangi penggunaan plastik, termasuk sanksi bagi yang tidak mematuhi. Prof Etty menambahkan bahwa pencemaran plastik bukan hanya tantangan bagi lingkungan, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan manusia karena adanya bahan aditif yang dapat memicu masalah kesehatan.
Baca juga: Pemeriksaan Yaqut Cholil Qoumas oleh KPK Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: