Osteoarthritis atau radang sendi menjadi salah satu masalah kesehatan yang umum terjadi pada lansia di Indonesia. Kondisi ini ditandai dengan nyeri sendi, kaku, dan pembengkakan yang bisa mengganggu aktivitas sehari-hari.
Baca juga: Memahami Self Love: Langkah Awal Menuju Hubungan yang Sehat
Dengan meningkatnya usia, risiko terkena osteoarthritis juga semakin besar. Pemahaman tentang penyakit ini sangat penting agar lansia dapat mengelola gejala dan kualitas hidup mereka tetap terjaga.
Apa Itu Osteoarthritis?
Osteoarthritis adalah bentuk arthritis yang paling umum, yang biasanya terjadi pada orang di atas 50 tahun. Penyakit ini muncul akibat kerusakan kartilago sendi, yang berfungsi sebagai pelindung ujung tulang dan membuat pergerakan lebih lancar.
Saat kartilago ini mulai menipis, tulang akan saling bergesekan, yang menyebabkan rasa sakit. Gejala awal osteoarthritis sering kali berupa nyeri saat bergerak dan kaku di sendi, terutama setelah beristirahat.
Osteoarthritis bisa mempengaruhi hampir semua sendi, tetapi yang paling sering terjadi di lutut, pinggul, punggung bawah, dan jari. Penghitungan risiko bisa meningkat bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit serupa.
Baca juga: ASN DKI Jakarta Kembali Bekerja di Kantor, Gubernur Cabut Instruksi WFH
Gejala Osteoarthritis
Gejala osteoarthritis bervariasi tergantung pada tingkat keparahan penyakit. Mulai dari nyeri sendi yang muncul saat beraktivitas, hingga bengkak dan kaku setelah beristirahat sehari-hari.
Dalam beberapa kasus, suara ‘berderak’ bisa terdengar saat sendi bergerak. Hal ini menunjukan adanya gesekan antara tulang yang berhubungan langsung tanpa pelindung kartilago.
Gejala yang muncul sebaiknya tidak diabaikan, sebab jika tidak ditangani, dapat menyebabkan penurunan fungsi sendi yang lebih parah.
Pengelolaan Osteoarthritis
Pengelolaan osteoarthritis meliputi beberapa pendekatan, seperti perubahan gaya hidup dan terapi fisik. Olahraga ringan dapat membantu memperkuat otot-otot sekitar sendi dan meningkatkan fleksibilitas.
Konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan terapi yang tepat juga sangat dianjurkan. Terkadang, penggunaan obat pereda nyeri seperti acetaminophen atau non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) bisa direkomendasikan.
Diet juga berperan penting, dengan mengonsumsi makanan anti-inflamasi yang kaya omega-3 dan serat bisa membantu mengurangi pembengkakan dan nyeri. Menjaga berat badan ideal juga dapat mengurangi tekanan pada sendi.
Baca juga: Kerusuhan Pecah di Tamansari, Bandung: Detail Kejadian dan Tanggapan Kampus
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: