Setiap awal Oktober, langit malam di belahan utara Bumi menyajikan pertunjukan spektakuler berupa hujan meteor Draconid, yang puncaknya diperkirakan akan terjadi pada 8 Oktober 2025.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China untuk Merayakan 80 Tahun Kemenangan Rakyat
Hujan meteor ini terlahir dari jejak debu komet 21P/Giacobini-Zinner dan dapat diamati tanpa alat bantu, menjadikannya fenomena yang dapat diakses oleh siapa saja.
Asal Usul Hujan Meteor Draconid
Hujan meteor Draconid dinamakan berdasarkan rasi bintang Draco, yang dalam bahasa Latin berarti naga. Fenomena ini terlihat seolah berasal dari mulut naga yang berada di langit utara.
Berbeda dengan hujan meteor lainnya yang biasanya terlihat menjelang fajar, Draconid lebih baik diamati pada awal malam setelah senja, saat rasi Draco tinggi di cakrawala utara.
Aktivitas hujan meteor ini bersifat tidak menentu; pada tahun-tahun biasa, meteor yang muncul hanya sedikit. Namun, pada waktu tertentu, Draconid dapat melepaskan ribuan meteor dalam sekejap.
Baca juga: Kemenperin: Izin Penjualan iPhone 17 Belum Diterima, Namun Investasi Apple Terus Berjalan
Jadwal dan Waktu Terbaik untuk Mengamati
Puncak aktivitas hujan meteor Draconid diperkirakan terjadi pada pukul 19.00 UTC, 8 Oktober 2025, atau sekitar pukul 02.00 WIB 9 Oktober 2025. Periode aktif dari fenomena tersebut berlangsung dari 6 hingga 10 Oktober 2025.
Waktu terbaik untuk mengamati adalah setelah gelap pada malam 8 Oktober, dari pukul 19.00 hingga 22.00 waktu setempat. Namun, pengamatan mungkin terhambat oleh cahaya bulan purnama yang dapat memudarkan kilatan meteor.
Dalam kondisi ideal, pengamat yang tidak terhalang cahaya bulan bisa melihat hingga 10 meteor Draconid per jam, meski angka ini dapat bervariasi tergantung pada kondisi atmosfer.
Cara Menyaksikan Hujan Meteor Draconid
Pengamatan hujan meteor Draconid tidak memerlukan teleskop atau alat khusus; cukup bersabar dan memilih lokasi yang tepat dengan langit malam yang gelap. Pengamat disarankan untuk mematikan lampu dan memberi waktu pada mata untuk beradaptasi dengan kegelapan.
Dengan bersantai sambil menatap langit utara, pengamat berkesempatan menyaksikan keajaiban saat kilatan cahaya menembus langit. Setiap kilatan memberikan pengalaman magis bagi mereka yang sabar menunggu di malam yang hening.
Momen ini menjadi lebih berharga ketika seseorang menantikan kehadiran meteor, seolah membawa jejak komet yang telah melintasi tata surya selama ribuan tahun.
Baca juga: Respons Google Terkait Isu Keamanan Gmail dan Phishing
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: