Rabu, 08 OKTOBER 2025 • 10:21 WIB

Tragedi Ambruknya Gedung Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo: Seruan Keluarga Korban untuk Keadilan

Author

Tragedi Ambruknya Gedung Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo: Seruan Keluarga Korban untuk Keadilan

Empat santri tewas dalam tragedi ambruknya gedung Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, pada 29 September. Keluarga korban mendesak pihak berwenang untuk melakukan penyelidikan menyeluruh dan menuntut pertanggungjawaban hukum atas insiden tersebut.

Baca juga: Sejarah Baru: Adrian Wibowo Berdarah Campuran Pertama yang Bermain di MLS

Kejadian tersebut meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan mengundang perhatian masyarakat luas, terutama mengenai keselamatan dan kualitas bangunan pendidikan keagamaan.

Kronologi Kejadian dan Dampak Bencana

Insiden ambruknya gedung terjadi pada 29 September dan menyebarkan kesedihan yang mendalam di kalangan keluarga serta masyarakat sekitar. Fauzi, paman dari empat korban yang tewas, mengungkapkan bahwa keberadaan anaknya di lokasi yang aman mencegah tragedi yang lebih parah.

Selanjutnya, Fauzi menyatakan, 'Kalau memang di situ ada human error atau kelalaian manusia dalam hal pembangunan, ya harus diproses.' Ulasan tersebut mencerminkan kekhawatiran yang mendalam terhadap keselamatan santri dan kualitas bangunan yang membahayakan.

Fauzi menambahkan bahwa ia berkonsultasi dengan ahli yang menilai kondisi gedung tersebut tidak memenuhi standar konstruksi yang layak. 'Dilihat dari konstruksinya memang tidak standar untuk pembangunan,' tegasnya, menyoroti fakta musim hujan yang juga dapat berkontribusi pada keruntuhan.

Baca juga: Lari Malam: Manfaat, Risiko, dan Tips Keamanan

Permintaan Pertanggungjawaban Hukum

Keluarga korban mendesak agar semua pihak yang terlibat, termasuk pengurus pesantren dan kiai, bertanggung jawab secara hukum. Fauzi menegaskan, 'Tidak ada yang kebal,' merujuk pada status sosial tinggi yang mungkin dimiliki oleh beberapa pihak.

Ia juga menyanjung pentingnya penegakan hukum dalam dugaan eksploitasi anak, di mana santri terlibat dalam pembangunan gedung. 'Nanti bukan tidak mungkin ada eksploitasi anak di sana,' ungkap Fauzi, menegaskan perlunya transparansi dalam proses investigasi.

Fauzi berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua institusi pendidikan untuk memastikan keselamatan santri. 'Hukum harus ditegakkan, supaya ke depan adik-adik kita bisa belajar dengan aman,' harapnya.

Tanggapan Keluarga Korban Lainnya

Keluarga korban lainnya, Muhammad Ma'ruf, ayah dari santri berusia 13 tahun, mendalami makna takdir dalam peristiwa ini. 'Kami nitipkan di pondok ini dengan tujuan agar anak kami kenal dengan Tuhannya,' ucap Ma'ruf, mencerminkan penerimaan akan musibah yang terjadi.

Sementara itu, KH Abdus Salam Mujib, pengasuh Pondok Pesantren Al Khoziny, menganggap insiden ini sebagai bagian dari takdir Tuhan. 'Ya saya kira ini takdir dari Allah, jadi semuanya harus bisa bersabar,' kata Mujib, menyampaikan harapannya untuk semua pihak agar tetap bersabar menghadapi cobaan ini.

Dalam penutupan, Mujib berharap agar pengorbanan yang dialami oleh para korban mendapatkan balasan pahala dari Allah SWT. 'Diberi pahala yang sangat-sangat, apa ya, nggak bisa mengutarakan dan mudah-mudahan dibalas kebaikan oleh Allah SWT yang lebih dari musibah ini,' tuturnya, menandakan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Baca juga: Pemeriksaan Yaqut Cholil Qoumas oleh KPK Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU