Menyusun anggaran bulanan merupakan langkah penting dalam manajemen keuangan pribadi. Dengan anggaran yang baik, individu dapat mengontrol pengeluaran dan menabung untuk masa depan.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China untuk Merayakan 80 Tahun Kemenangan Rakyat
Namun, banyak orang masih merasa kesulitan dalam membuat anggaran yang efektif. Artikel ini akan membahas langkah-langkah konkret untuk menyusun anggaran bulanan yang realistis.
Memahami Pengeluaran Bulanan
Langkah pertama dalam menyusun anggaran adalah memahami pengeluaran bulanan yang biasa dilakukan. Rincian pengeluaran ini mencakup kebutuhan pokok seperti makanan, transportasi, dan tempat tinggal.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), sebagian besar pengeluaran rumah tangga di Indonesia difokuskan pada kebutuhan pokok.
Oleh karena itu, penting untuk mencatat semua pengeluaran dalam satu bulan untuk mengetahui posisi keuangan.
Dalam mendata pengeluaran, seseorang dapat menggunakan aplikasi keuangan atau buku catatan sederhana, yang membantu dalam melacak setiap transaksi secara akurat.
Baca juga: Pecat Anggota Polri Terkait Kematian Ojol, Kompol Cosmas Kaju Gae Jadi Sorotan
Menentukan Pemasukan Bulanan
Selanjutnya, penting untuk mencatat semua sumber pemasukan yang dimiliki setiap bulan. Sumber pemasukan ini dapat berasal dari gaji, usaha sampingan, atau investasi yang menghasilkan.
Menghitung total pemasukan merupakan langkah yang vital untuk mengetahui keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran.
Pastikan untuk tidak menyertakan pendapatan yang tidak pasti saat menyusun anggaran.
Dengan data pemasukan yang jelas, seseorang dapat lebih mudah merencanakan pengeluaran tanpa melebihi batas kemampuan finansial.
Membuat Rencana Anggaran
Setelah memahami pengeluaran dan pemasukan, langkah berikutnya adalah membuat rencana anggaran berdasarkan data tersebut. Rencana ini seharusnya mencakup semua kategori pengeluaran dengan persentase yang sesuai.
Salah satu pendekatan yang umum adalah metode 50/30/20, di mana 50% dari pendapatan dialokasikan untuk kebutuhan pokok, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan atau pembayaran utang.
Hal yang penting adalah fleksibilitas dalam mengikuti rencana anggaran, di mana semua perencanaan harus dapat disesuaikan dengan keadaan darurat atau perubahan penghasilan.
Baca juga: BEM SI Kerakyatan Batalkan Demo di Jakarta Karena Kondisi Tak Kondusif
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: