Anemia kronis merupakan kondisi medis yang sering kali tidak disadari, ditandai dengan gejala kelelahan berkepanjangan akibat rendahnya kadar hemoglobin yang mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.
Baca juga: Pelatih Timnas Korea Selatan U-23 Siap Hadapi Tantangan di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Masalah kesehatan ini signifikan di Indonesia, terutama di kalangan wanita dan anak-anak, sehingga penting untuk mengenali tanda-tandanya guna mencegah dampak serius yang dapat ditimbulkan.
Pengertian Anemia Kronis
Anemia kronis didefinisikan sebagai kondisi di mana jumlah sel darah merah yang sehat dalam tubuh berkurang secara bertahap, yang mengakibatkan kekurangan oksigen.
Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk penyakit kronis, kekurangan nutrisi, atau kehilangan darah yang berkelanjutan.
Kadar hemoglobin normal berkisar antara 12 hingga 16 g/dL untuk wanita dan 13 hingga 17 g/dL untuk pria.
Jika kadar hemoglobin berada di bawah angka tersebut, individu dapat mengalami berbagai gejala anemia.
Gejala dan Tanda Anemia Kronis
Gejala paling umum dari anemia kronis adalah kelelahan yang tidak wajar, yang merupakan akibat dari kurangnya oksigen yang diangkut ke jaringan tubuh.
Baca juga: Menemukan Kebahagiaan dalam Momen Sederhana
Penurunan energi dan motivasi sering kali dialami, berdampak pada kemampuan individu untuk menjalani aktivitas sehari-hari.
Gejala tambahan termasuk palpitasi jantung, sesak napas, dan pusing. Dalam kasus yang lebih parah, kulit dapat terlihat pucat dan kuku menjadi rapuh.
Rasa lemah dan lesu juga sering dialami, sehingga membuat aktivitas sehari-hari menjadi sulit.
Penyebab dan Pengobatan Anemia Kronis
Anemia kronis dapat disebabkan oleh berbagai kondisi kesehatan, termasuk penyakit ginjal, gangguan autoimun, serta defisiensi zat besi dan vitamin B12.
Penting untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh guna mengidentifikasi penyebab yang mendasari kondisi ini.
Pengobatan biasanya melibatkan pengisian kembali cadangan zat besi serta suplemen vitamin sesuai kebutuhan.
Dalam kasus yang lebih serius, terapi transfusi darah mungkin diperlukan, dan upaya pencegahan seperti pola makan seimbang dan pemeriksaan kesehatan berkala sangat dianjurkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: