Kamis, 10 JULI 2025 • 03:52 WIB

Fenomena ‘Quiet Quitting’: Tanda Perubahan Sosial di Dunia Kerja

Author

Generated by Journalist AI

santaitalks.com – Fenomena ‘quiet quitting’ atau ‘pengunduran diri diam-diam’ kini menjadi buah bibir di kalangan pekerja. Hal ini berkaitan dengan karyawan yang memilih untuk hanya melakukan pekerjaan minimum tanpa berusaha lebih untuk memenuhi ekspektasi.

Tren ini mencerminkan adanya pergeseran pola pikir di kalangan pekerja, khususnya setelah pandemi, menjadikan pentingnya evaluasi ulang hubungan antara karyawan dan tempat kerja mereka.

Apa Itu Quiet Quitting?

‘Quiet quitting’ adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sikap karyawan yang enggan untuk melampaui kewajiban dasar mereka. Ini bukan tentang mengundurkan diri, tetapi lebih tentang menarik diri dari komitmen yang lebih dalam di lingkungan kerja.

Konsep ini muncul sebagai respons terhadap meningkatnya tingkat burnout dan stres yang dialami oleh banyak pekerja. Banyak karyawan mulai memahami bahwa keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi sangat penting, sehingga mereka berusaha tidak terjebak dalam rutinitas kerja yang melelahkan.

Mengapa Fenomena Ini Makin Banyak?

Salah satu faktor yang berkontribusi pada meningkatnya fenomena ‘quiet quitting’ adalah tekanan dari tuntutan kerja yang berat. Karyawan merasa terbebani dengan tanggung jawab yang lebih banyak tanpa mendapatkan imbalan yang setimpal.

Ketidakpuasan terhadap manajemen dan kebijakan perusahaan juga menjadi faktor penggerak. Apabila karyawan merasa tidak dihargai, mereka cenderung melakukan pekerjaan dengan cara minimal dan mengurangi keterlibatan mereka dengan perusahaan.

Pandemi COVID-19 juga mulai mengubah pandangan tentang pekerjaan. Dengan banyaknya karyawan yang bekerja dari rumah, muncul kesadaran baru tentang kesehatan mental dan kesejahteraan pribadi, jauh lebih dari sekadar performa kerja.

Dampak dari Quiet Quitting

Dampak dari ‘quiet quitting’ sangat terasa pada produktivitas tim serta kinerja perusahaan. Dengan semakin banyak karyawan yang hanya berusaha memenuhi tuntutan minimum, risiko penurunan inovasi dan efisiensi semakin meningkat.

Fenomena ini menciptakan tantangan baru di sektor manajemen sumber daya manusia. Para pemimpin perlu mencari cara inovatif untuk membangkitkan kembali semangat kerja dan keterlibatan di tengah rasa apatis di kalangan karyawan.

Karyawan yang terperangkap dalam siklus ‘quiet quitting’ berisiko kehilangan peluang untuk perkembangan karir. Ketika mereka memilih untuk berhenti berusaha, kesempatan untuk promosi dan pengembangan profesional menjadi semakin kecil.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU