Arsenal Dihujani Kritik Setelah Taktik Buang Waktu di Pertandingan Melawan Brighton
Arsenal mendapat sorotan tajam karena diduga menghabiskan hingga 30 menit dalam buang waktu saat melawan Brighton & Hove Albion.
Baca juga: Memahami Self Love: Langkah Awal Menuju Hubungan yang Sehat
Kemenangan tipis 1-0 yang diperoleh Arsenal melalui gol Bukayo Saka menuai kecaman terutama dari manajer Brighton, Fabian Hurzeler, yang mengecam taktik negatif tim lawan.
Fabian Hurzeler, manajer Brighton, secara terbuka mengkritik taktik yang diterapkan Arsenal dalam pertandingan yang berakhir dengan kemenangan tipis bagi mereka. Ia menyampaikan, 'Cuma ada satu tim yang mencoba untuk bermain hari ini. Saya tak mau menjadi manajer yang mencari kemenangan dengan cara seperti itu.'
Statistik yang dirilis oleh Opta menunjukkan bahwa waktu terbuang oleh Arsenal terjadi karena beragam situasi, seperti tendangan bebas, lemparan ke dalam, dan sepak pojok. Dalam pertandingan tersebut, Arsenal menghabiskan waktu total 30 menit 51 detik hanya untuk memulai kembali permainan.
Baca juga: Dolby Vision 2: Inovasi Terbaru dalam Teknologi Visual untuk Pengalaman Menonton yang Lebih Hidup
Meskipun waktu buang Arsenal tergolong signifikan, data awal musim ini menunjukkan mereka bukanlah tim yang paling sering membuang waktu dalam liga. Misalnya, Newcastle United tercatat memiliki waktu buang tertinggi dengan 37 menit 5 detik saat melawan Liverpool.
Rata-rata waktu buang Arsenal di Premier League musim ini mencapai 2 jam 7 menit, dengan waktu 30,2 detik untuk setiap momen bola tidak dimainkan. Angka ini menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana strategi mereka berfungsi dalam konteks taktik permainan yang lebih luas.
Kritik terhadap Arsenal terkait taktik buang waktu ini bukanlah hal yang baru. Pada bulan Oktober 2025, Arsenal juga mencatatkan waktu total 30 menit 13 detik saat melawan Fulham, yang menambah catatan buruk mereka dalam hal ini.
Merasa frustrasi dengan situasi tersebut, Hurzeler menekankan bahwa metode permainan seperti ini berdampak negatif pada pengalaman pertandingan. Ia berharap, 'tim lain tidak mengikuti cara bermain seperti itu,' guna menjaga integritas permainan sepak bola.
Baca juga: Mengenal Finfluencer: Solusi Cerdas untuk Memahami Keuangan di Era Digital
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: