Investigasi Korupsi Pengadaan Chip di Malaysia: Latar Belakang dan Implikasi Global
Lembaga antikorupsi Malaysia tengah menjalankan penyelidikan komprehensif terkait dugaan korupsi dalam kesepakatan teknologi senilai 1,1 miliar ringgit, yang setara dengan Rp 4,7 triliun.
Baca juga: Prabowo Subianto Tetap Berangkat ke China Setelah Situasi Stabil
Penyelidikan ini berfokus pada kemungkinan penyalahgunaan kekuasaan dalam kerja sama antara pemerintah Malaysia dan perusahaan desain chip, Arm Holdings.
Kepala Malaysian Anti-Corruption Commission (MACC), Azam Baki, telah mengungkap bahwa pihaknya memanggil 12 individu untuk memberikan keterangan, termasuk mantan menteri dan pejabat kementerian ekonomi.
Penyidikan dilakukan untuk menelusuri dugaan pelanggaran tata kelola yang terkait dengan kesepakatan ini, memastikan semua proses berjalan dengan adil dan profesional sesuai dengan standar penegakan hukum.
Baca juga: Manchester United Rekrut Kiper Senne Lammens di Detik Terakhir Bursa Transfer
Kesepakatan yang diumumkan pada Maret 2025 melibatkan pembayaran oleh pemerintah Malaysia sebesar US$250 juta selama sepuluh tahun untuk akses terhadap desain chip yang dikembangkan oleh Arm Holdings.
Desain chip ini diyakini dapat memperkuat kapabilitas industri semikonduktor lokal, mendorong pertumbuhan teknologi domestik yang lebih baik.
Pada skala yang lebih luas, Indonesia sedang bersiap untuk menjalin kerja sama dengan Arm Limited melalui Badan Pengelola Investasi Danantara (BPI Danantara), dengan fokus pada pengembangan enam desain chip dengan orientasi pada intellectual property (IP) nasional.
Kerja sama strategis ini akan mencakup sektor otomotif, Internet of Things (IoT), dan teknologi lainnya, mendukung kemajuan industri teknologi di dalam negeri.
Baca juga: Proses Penyelidikan Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: