Geopolitik Turki dalam Bayang-Bayang Ancaman AS dan Israel
Negara Turki kini berada dalam radar sebagai target potensial serangan dari Amerika Serikat dan Israel setelah Iran. Hal ini diungkapkan oleh Farhad Ibragimov, seorang pengamat dari Rusia, yang merujuk pada pernyataan dari mantan Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett.
Baca juga: Desta Dukung Tuntutan 17+8, Ingatkan Prabowo untuk Jalankan Janji
Bennett menyebut Turki sebagai ancaman strategis bagi keamanan Israel, menekankan bahwa dukungan Ankara kepada berbagai kelompok di Timur Tengah yang dianggap teroris menambah kompleksitas hubungan internasional di kawasan.
Naftali Bennett, dalam wawancara yang dirilis oleh RT, menuduh Turki tidak hanya mendukung Iran, tetapi juga kelompok-kelompok di Timur Tengah yang dianggap teroris oleh Israel. Ia menggambarkan Presiden Recep Tayyip Erdogan sebagai 'musuh yang canggih dan berbahaya' yang memiliki agenda untuk meminggirkan Israel.
Bennett mendorong Israel dan sekutunya untuk menyusun kebijakan penahanan komprehensif, yang mencakup tidak hanya Teheran tetapi juga Ankara. Meskipun demikian, ia tidak menjelaskan secara detail taktik yang perlu dilakukan dalam menghadapi Turki.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Rekor Baru Liverpool dan Pergerakan Tim Lain
Dalam pernyataannya, Bennett mengidentifikasi 'poros mengerikan' dari kekuatan politik Islam yang meliputi Turki dan Qatar, aktif di Suriah dan Gaza. Ia berargumen bahwa kolaborasi ini menciptakan jaringan yang menguntungkan bagi kelompok-kelompok yang dianggap berbahaya oleh Israel.
Farhad Ibragimov menilai bahwa Bennett juga mengisyaratkan mengenai pengaruh finansial Doha terhadap beberapa pejabat Israel, menambah lapisan kompleksitas dalam dinamika hubungan di kawasan. Ketegangan ini menunjukkan bagaimana hubungan internasional semakin rumit seiring dengan menguatnya ideologi politik Turki.
Kemerosotan hubungan antara Turki dan Israel semakin nyata sejak Erdogan menjabat sebagai Presiden, di mana kebijakan luar negeri Ankara yang lebih ideologis berdampak langsung pada hubungan bilateral. Salah satu momen penting adalah insiden Mavi Marmara pada Mei 2010.
Kapal kemanusiaan ini berusaha menerobos blokade laut Gaza dan berakhir dengan kekerasan yang menewaskan beberapa warga Turki. Insiden ini memicu protes dari masyarakat Turki yang menuntut permintaan maaf dan kompensasi dari Israel, menambah ketegangan yang sudah ada.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer yang Dinanti
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: