Inisiatif Prabowo untuk Memediasi Ketegangan AS-Iran: Realisme atau Idealis?
Presiden Prabowo Subianto mengemukakan niatnya untuk menghadiri pertemuan di Teheran guna memfasilitasi dialog antara Amerika Serikat dan Iran, di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Rekor Baru Liverpool dan Pergerakan Tim Lain
Namun, tawaran tersebut segera mendapatkan kritik dari pengamat dan mantan diplomat, yang menilai inisiatif ini sebagai 'sangat tidak realistis'.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meruncing setelah serangan yang dilakukan oleh AS dan Israel di akhir Januari 2026. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menambah kompleksitas situasi, sebagai jalur strategis bagi perdagangan energi global.
Pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Indonesia pada 28 Februari 2026, menegaskan kesiapan Prabowo untuk menciptakan kondisi keamanan yang lebih stabil. Hal ini muncul bersamaan dengan kekhawatiran masyarakat internasional terkait dampak ekonomi dari konflik yang berkepanjangan.
Mantan diplomat Dino Patti Djalal menampik kemungkinan keberhasilan dari tawaran mediasi tersebut. Dalam pandangannya, ia bertanya, 'Saya heran kenapa ide ini tidak difilter dulu sebelum diumumkan.'
Baca juga: Aksi Unjuk Rasa Besar-Besaran Mahasiswa Dijadwalkan pada 2 September 2025
Beliau menegaskan bahwa Amerika Serikat umumnya jarang mengandalkan perantara dalam upaya penyelesaian konflik, menyatakan, 'Ego Amerika sebagai negara superpower terlalu tinggi untuk menerima itu.'
Sementara mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla juga menunjukkan bahwa posisi Indonesia menjadi rumit setelah perjanjian dagang resiprokal dengan AS, yang dianggap tidak seimbang.
Konflik ini tak hanya mempengaruhi kawasan tersebut tetapi juga berdampak pada perekonomian global, termasuk Indonesia yang merupakan importir minyak. Penutupan Selat Hormuz berpotensi mempengaruhi pasokan energi serta harga minyak dunia.
Menurut KBRI Teheran, terdapat sekitar 329 warga Indonesia yang tinggal di Iran. Meskipun tidak ada ancaman langsung yang dirasakan, kewaspadaan tetap dijaga oleh mereka, menunjukkan perlunya Indonesia mengambil posisi tegas dalam situasi ini.
Dengan kondisi ini, Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk meninjau kembali kebijakan luar negerinya, terutama dalam konteks mediasi konflik yang melibatkan kekuatan global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: