Aktor Global Bersiap: Tensi Meningkat Antara AS dan Iran
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran semakin memanas, dengan pejabat Israel mengisyaratkan bahwa serangan militer AS terhadap Iran semakin dekat untuk direalisasikan. Pernyataan ini disampaikan pada 24 Februari 2026 melalui laporan dari surat kabar Yedioth Ahronoth.
Baca juga: Kemenperin: Izin Penjualan iPhone 17 Belum Diterima, Namun Investasi Apple Terus Berjalan
Sumber yang terhubung dengan pemerintahan Presiden AS Donald Trump menunjukkan bahwa ada kemungkinan perintah untuk melanjutkan operasi militer, yang memicu perhatian dan kekhawatiran di tingkat internasional mengenai dampaknya terhadap stabilitas regional.
Israel telah menyelesaikan berbagai persiapan sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan dibukanya front tambahan. Kesiapan ini menunjukkan bahwa situasi saat ini menjadi perbincangan hangat di kalangan pejabat dan analis internasional.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa saat ini adalah periode yang kompleks bagi Israel, dengan pemerintahannya berfokus pada kesiapan menghadapi berbagai skenario yang mungkin terjadi di masa depan. Ketegangan ini menciptakan suasana waspada di kalangan sekutu-sekutu Israel.
Baca juga: Presiden Prabowo Subianto Temui Pimpinan Serikat Pekerja: Diskusi Aksi Buruh dan RUU Perampasan Aset
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengungkapkan keprihatinan terkait potensi eskalasi yang mungkin terjadi jika negara mereka diserang. Dalam sebuah konferensi di Jenewa, ia menyerukan kepada negara-negara yang mendukung perdamaian untuk mengambil langkah-langkah pencegahan.
"Konsekuensi dari setiap agresi baru tidak akan terbatas pada satu negara -- dan tanggung jawab akan berada pada mereka yang memulai atau mendukung tindakan tersebut," tegasnya. Pernyataan ini menunjukkan kekhawatiran nyata Iran tentang dampak luas dari ancaman serangan.
Pembicaraan tidak langsung antara negosiator Iran dan AS mengenai program nuklir Teheran baru-baru ini diadakan di Jenewa. Meski ketegangan meningkat, Washington mengumumkan bahwa perundingan akan diteruskan pada 26 Februari.
"Republik Islam Iran tetap berkomitmen pada diplomasi dan dialog sebagai jalan paling efektif menuju de-eskalasi dan keamanan berkelanjutan," kata Gharibabadi. Pernyataan ini mencerminkan keinginan Iran untuk melanjutkan pembicaraan meskipun situasi yang semakin kritis.
Baca juga: Tips Menciptakan Kamar Kecil yang Cozy dan Nyaman
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: