Penyebab dan Dampak Lubang Raksasa di Aceh Tengah: Sebuah Penjelasan Geologis
Fenomena lubang tanah raksasa di Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, telah meluas hingga 27 ribu meter persegi. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengonfirmasi bahwa ini adalah akibat longsoran tanah, bukan sinkhole.
Baca juga: Desta Dukung Tuntutan 17+8, Ingatkan Prabowo untuk Jalankan Janji
Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, menjelaskan bahwa material tufa di wilayah tersebut rentan terhadap longsor. Penyelidikan awal menunjukkan proses erosi sudah terjadi selama bertahun-tahun.
Laporan dari BRIN menyebutkan bahwa lubang besar ini muncul di kawasan yang tidak terdiri dari batu gamping. Wilayah Ketol didominasi oleh material tufa yang berasal dari aktivitas Gunung Geurendong.
Adrin Tohari menjelaskan, 'Yang terjadi di Aceh Tengah itu sebenarnya fenomena longsoran, bukan sinkhole.' Struktur lapisan tufa yang tidak padat berkontribusi terhadap kerentanan ini.
Penelitian awal menunjukkan erosi dan longsor telah terjadi selama bertahun-tahun. Pengamatan melalui citra satelit dari Google Earth sejak 2010 menunjukkan lembah yang semakin melebar akibah proses tersebut.
Baca juga: Manchester United Rekrut Kiper Senne Lammens di Detik Terakhir Bursa Transfer
Gempa bumi berkekuatan 6,2 magnitudo pada tahun 2013 diidentifikasi sebagai salah satu penyebab ketidakstabilan struktural di lereng. Menurut Adrin, 'Gempa bumi itu diperkirakan memperlemah struktur lereng.'
Hujan lebat juga berdampak signifikan terhadap kondisi tanah. 'Batuan tufa yang rapuh mudah jenuh air,' ungkapnya, yang menyebabkan lapisan tanah kehilangan daya ikat dan akhirnya runtuh.
Selain gempa dan hujan, saluran irigasi terbuka di perkebunan turut berkontribusi pada peningkatan kelembaban. Hal ini membuat tanah menjadi lebih cepat runtuh.
Saat ini, BRIN masih dalam tahap analisis berdasarkan data citra satelit dan informasi publik. Adrin menggarisbawahi perlunya penelitian lebih dalam untuk mengidentifikasi penyebab dan dampaknya.
"Kami masih sebatas menganalisis berdasarkan data citra dan informasi publik. Untuk memastikan penyebab secara detail diperlukan penelitian komprehensif," ujarnya.
Adrin merekomendasikan pembaruan peta kerentanan gerakan tanah. 'Yang terpenting sekarang adalah memahami prosesnya dan segera melakukan langkah mitigasi,' tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: