Insiden Rasisme dalam Sepakbola: Tanggapan Legenda terhadap Prestianni
Gianluca Prestianni, pemain Benfica, mendapat kecaman serius dari legenda sepakbola dunia setelah terjadinya dugaan penghinaan rasial terhadap Vinicius Junior dari Real Madrid.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Insiden ini terjadi saat pertandingan play-off Liga Champions di Estadio da Luz, yang berakhir dengan kemenangan bagi Real Madrid.
Pertandingan antara Real Madrid dan Benfica pada 18 Februari 2026 menjadi sorotan dunia olahraga setelah insiden rasial melibatkan Gianluca Prestianni. Ketika Vinicius Junior merayakan golnya, Prestianni dituduh menggunakan bahasa penghinaan yang tak pantas.
Dugaan perilaku rasis itu telah memicu reaksi keras dari mantan pemain dan pengamat sepakbola. Kejadian ini mengeksplorasi tantangan besar dalam menghadirkan lingkungan sepakbola yang inklusif dan bebas dari diskriminasi.
Dalam beberapa waktu terakhir, masalah rasisme dalam sepakbola semakin hangat diperbincangkan. Insiden ini menunjukkan bahwa masih ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menciptakan perubahan nyata dalam olahraga ini.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Rekor Baru Liverpool dan Pergerakan Tim Lain
Thierry Henry, mantan bintang Arsenal, menunjukkan ketidakpuasannya terhadap tindakan Prestianni. Ia berkata, "Gianluca Prestianni, katakan apa yang kau katakan. Jadilah laki-laki. Mengapa kau menutupi mulutmu dengan bajumu? Apakah karena dingin?"
Henry menyoroti betapa pentingnya bertanggung jawab dan menghadapi kata-kata yang diucapkan, seraya menunjukkan bahwa rasisme tidak bisa diabaikan.
Clarence Seedorf, yang juga merupakan mantan pemain klub-klub besar, menyatakan, "Tidak ada pembenaran untuk pelecehan rasis: tidak ada tempat untuk itu." Ucapan ini menegaskan bahwa semua bentuk diskriminasi harus dihadapi dengan tegas.
Wesley Sneijder, mantan pemain Inter Milan dan Ajax Amsterdam, juga menyampaikan kritik tajam, menyebut Prestianni sebagai pecundang. Ia menegaskan, "Sungguh keterlaluan masih ada yang menyebut orang kulit hitam sebagai monyet," mengingatkan pentingnya sikap terhormat dalam kompetisi.
Sneijder mengarahkan perhatian pada rekan satu tim Prestianni yang berkulit hitam. Ia mempertanyakan dampak perilaku ini terhadap mereka, "Apa yang mereka pikirkan?"
Dengan demikian, Sneijder menunjukkan bahwa rasisme memengaruhi lebih dari sekadar individu yang menjadi korban, tetapi juga mempengaruhi dinamika tim dan moralitas dalam olahraga.
Baca juga: Kunto Aji: Tanggung Jawab Anggota DPR Harus Ditegaskan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: