Perubahan Iklim: Ancaman Panas Ekstrem bagi Indonesia
Indonesia diprediksi akan menjadi salah satu negara yang paling terpengaruh oleh fenomena panas ekstrem akibat perubahan iklim, berdasarkan studi terbaru dari University of Oxford.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Jadi Warga Negara Indonesia
Studi ini, yang diterbitkan dalam jurnal Nature Sustainability, menyebutkan bahwa dampak signifikan akan muncul ketika suhu global melewati ambang batas 1,5 derajat Celsius.
Fenomena panas ekstrem tidak hanya akan dirasakan di negara-negara tropis, namun juga di wilayah dengan iklim dingin. Penelitian menyatakan bahwa, 'Jika suhu global mencapai dua derajat Celsius, negara seperti Austria dan Kanada akan mengalami peningkatan hari panas ekstrem hingga dua kali lipat.'
Dr. Jesus Lizana, Profesor Madya di bidang Ilmu Rekayasa, menegaskan bahwa perubahan dalam permintaan sistem pendinginan dan pemanasan akan muncul sebelum ambang batas 1,5 derajat Celsius. 'Ini akan memerlukan langkah-langkah adaptasi signifikan yang harus diterapkan sejak dini,' ungkapnya.
Kenaikan suhu ini mengharuskan banyak rumah di Indonesia untuk mempertimbangkan pemasangan pendingin ruangan dalam waktu lima tahun ke depan, suatu langkah yang bisa jadi sangat mahal dan berisiko meningkatkan emisi karbon.
Baca juga: Memahami Self Love: Langkah Awal Menuju Hubungan yang Sehat
Radhika Khosla, peneliti dari Smith School of Enterprise and the Environment, menyatakan bahwa melampaui ambang 1,5 derajat Celsius akan menimbulkan dampak besar bagi sektor pendidikan, kesehatan, migrasi, dan pertanian. 'Pembangunan berkelanjutan dengan target net zero tetap menjadi satu-satunya jalan yang terbukti untuk membalikkan tren meningkatnya hari-hari panas ekstrem,' tegasnya.
Dalam konteks Indonesia, dampak negatif dari peningkatan suhu ekstrem bisa signifikan bagi produktivitas pertanian dan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur yang mendukung mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim menjadi sangat penting.
Meningkatnya kebutuhan energi untuk pendinginan dikhawatirkan mendorong emisi karbon, serta memperburuk tantangan dalam mencapai target pengurangan emisi gas rumah kaca.
Studi dari University of Oxford juga menyediakan dataset terbuka yang mencakup 30 peta dunia dengan resolusi sekitar 60 kilometer, berkaitan dengan kebutuhan pemanasan dan pendinginan global. Data ini diharapkan menjadi dasar penting bagi perencanaan pembangunan berkelanjutan dan kebijakan iklim di berbagai negara.
Pemangku kepentingan di Indonesia diharapkan dapat merumuskan kebijakan yang lebih efektif dalam menghadapi tuntutan perubahan iklim dengan memanfaatkan data tersebut. Langkah awal yang diperlukan adalah menilai kembali strategi adaptasi dan mitigasi yang sudah ada untuk menghadapi tantangan yang akan datang.
Baca juga: Dolby Vision 2: Inovasi Terbaru dalam Teknologi Visual untuk Pengalaman Menonton yang Lebih Hidup
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: