BREAKING NEWS
|
KAMIS, 04/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Kamis, 05 FEBRUARI 2026 • 20:55 WIB

Puasa Ramadan di Stasiun Luar Angkasa: Tantangan dan Solusi Astronaut

Puasa Ramadan di Stasiun Luar Angkasa: Tantangan dan Solusi AstronautPuasa Ramadan di Stasiun Luar Angkasa: Tantangan dan Solusi Astronaut

Menjalani bulan suci Ramadan di luar angkasa menjadi tantangan tersendiri bagi astronaut. Situasi yang jauh berbeda dari di Bumi membuat penentuan waktu ibadah, termasuk puasa, harus disesuaikan.

Baca juga: Kemenperin: Izin Penjualan iPhone 17 Belum Diterima, Namun Investasi Apple Terus Berjalan

Di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), astronaut Muslim menghadapi siklus siang dan malam yang ekstrem, sehingga metode konvensional dalam menentukan waktu puasa tidak dapat diterapkan.

Siklus Waktu yang Berbeda di Luar Angkasa

Astronaut yang berada di ISS mengelilingi Bumi sebanyak 16 kali dalam satu hari, sehingga mereka dapat melihat matahari terbit dan terbenam hingga 16 kali dalam 24 jam. Hal ini menyebabkan sulitnya penentuan waktu imsak dan berbuka puasa yang biasanya bergantung pada posisi matahari di Bumi.

Meskipun di Bumi, durasi siang dan malam relatif stabil, di luar angkasa, konsep waktu menjadi lebih kompleks dan tidak praktis untuk kebutuhan ibadah.

Karena kondisi ini, astronaut harus mencari alternatif untuk menentukan waktu puasa yang sesuai dengan ketentuan agama.

Baca juga: Presiden Prabowo Subianto Temui Pimpinan Serikat Pekerja: Diskusi Aksi Buruh dan RUU Perampasan Aset

Cara Menentukan Waktu Puasa

Penentuan waktu puasa bagi astronaut Muslim biasanya dilakukan dengan merujuk pada waktu tertentu di Bumi. Pendekatan ini mencakup mengikuti waktu negara asal, waktu lokasi peluncuran, atau waktu yang disepakati berdasarkan panduan keagamaan.

Pendekatan ini juga membantu menjaga keteraturan ibadah meskipun dalam kondisi yang tidak mendukung penggunaan siklus siang dan malam. Beberapa astronaut diperbolehkan untuk tidak berpuasa selama misi dan menggantinya setelah kembali ke Bumi.

Hal ini sesuai dengan ketentuan agama yang memungkinkan penyesuaian dalam pelaksanaan ibadah.

Tantangan dan Koneksi Spiritual

Tantangan lain di luar penentuan waktu adalah masalah konsumsi makanan. Astronaut mengonsumsi makanan yang telah dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan gizi mereka dalam lingkungan tanpa gravitasi, dengan kemasan yang mudah dibawa dan umur simpan panjang.

Meskipun harus menghadapi berbagai tantangan, astronaut tetap berusaha menjalankan ibadah pada bulan Ramadan. Aktivitas seperti salat dan refleksi spiritual tetap dilakukan sesuai kemampuan.

Komunikasi dengan keluarga melalui video call juga menjadi salah satu cara untuk menjaga kedekatan emosional dan semangat Ramadan, meskipun mereka berada jauh dari Bumi.

Baca juga: Pemeriksaan Yaqut Cholil Qoumas oleh KPK Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Puasa Ramadan di Stasiun Luar Angkasa: Tantangan dan Solusi Astronaut

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!