IHSG Terpuruk 4,35% di Awal Februari 2026: Analis Memperkirakan Dampak Berkelanjutan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menurun tajam sebesar 4,35% pada perdagangan Senin, mencatatkan level 7.969,03 hingga pukul 09:30 WIB. Penurunan ini mencerminkan tekanan pasar yang signifikan dan ketidakpastian investor di tengah kondisi ekonomi global yang bergejolak.
Baca juga: Kemenperin: Izin Penjualan iPhone 17 Belum Diterima, Namun Investasi Apple Terus Berjalan
Sebanyak 630 saham mengalami penurunan nilai, sementara hanya 78 saham yang berhasil mencatatkan kenaikan. Volume perdagangan mencapai 16,46 miliar saham, menunjukkan aktivitas pasar yang cukup tinggi meskipun dalam kondisi negatif.
Pada perdagangan hari ini, IHSG dibuka pada level 8.306,16, namun segera anjlok 287 poin dalam waktu singkat. Penurunan ini menandakan adanya tekanan pasar yang tajam, terutama dari sektor tambang dan perdagangan emas.
Pasar mengalami koreksi yang signifikan dipicu oleh penurunan harga acuan global, yang meresahkan para pelaku pasar. Ini menunjukkan reaksi langsung terhadap berbagai gejolak ekonomi yang terjadi di tingkat internasional.
Baca juga: Kericuhan di Bandung: Rincian Peristiwa Penembakan Gas Air Mata di Kawasan Tamansari
Kondisi keuangan Indonesia saat ini tengah dipengaruhi oleh beberapa faktor baik eksternal maupun domestik. Salah satu yang paling berpengaruh adalah terjadinya partial shutdown pemerintah Amerika Serikat, yang secara langsung berdampak pada sentimen investor global.
Dinamika internal pasar keuangan juga turut menyumbang kepada pelemahan ini. Investor menjadi lebih berhati-hati, mencermati prospek ekonomi yang tidak menentu dan dampaknya terhadap investasi.
Pada hari ini, dijadwalkan S&P Global akan merilis data Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur untuk bulan Januari 2026. Meskipun aktivitas manufaktur Indonesia telah menunjukkan fase ekspansi selama lima bulan terakhir, pasar tetap terlihat rentan terhadap fluktuasi jangka pendek.
Selain itu, Badan Pusat Statistik (BPS) berencana untuk mengumumkan data inflasi untuk bulan Januari dan neraca dagang pada bulan Desember 2025. Data ini diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas tentang kesehatan ekonomi Indonesia yang dapat memengaruhi IHSG lebih lanjut.
Baca juga: Mengenal Finfluencer: Solusi Cerdas untuk Memahami Keuangan di Era Digital
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: