Krisis Komunikasi: Dampak Pemadaman Internet Terhadap Protes di Iran
Pemadaman internet nasional di Iran, yang berlangsung selama 156 jam, memperburuk situasi demonstrasi yang telah berlangsung sejak akhir Desember 2022.
Baca juga: Prabowo Subianto Tetap Berangkat ke China Setelah Situasi Stabil
Dengan sulitnya akses informasi, keadaan di lapangan menjadi kian tidak jelas, menambah tantangan bagi pelaporan dan pemantauan kondisi di negeri tersebut.
Aksi protes di Iran dimulai pada 28 Desember 2022 dan dipicu oleh berbagai faktor, termasuk isu politik dan sosial yang mendalam. Situasi menjadi lebih kritis setelah pemadaman internet yang dilakukan selama lebih dari satu minggu, yang telah mengganggu komunikasi di seluruh negeri.
Laporan dari NetBlocks, pengawas keamanan siber, menunjukkan bahwa pemadaman ini memperkuat penyebaran konten yang pro-rezim, dan membuat informasi akurat semakin sulit diakses.
Baca juga: Dolby Vision 2: Inovasi Terbaru dalam Teknologi Visual untuk Pengalaman Menonton yang Lebih Hidup
Ketidakstabilan informasi real-time juga mempersulit dokumentasi tentang jumlah korban yang jatuh, di mana angka kematian telah menjadi subyek perdebatan, dengan banyak laporan yang memberikan informasi yang saling bertentangan tentang situasi yang terjadi.
Berdasarkan laporan dari Human Rights Activists News Agency (HRANA), diperkirakan jumlah korban tewas akibat demonstrasi mencapai 2.615 orang hingga Rabu, 14 Januari. Di antara yang tewas terdapat anak-anak, warga sipil non-demonstran, serta pengunjuk rasa dan anggota pasukan keamanan.
Lembaga Iran Human Rights (IHR) pun melaporkan kemungkinan korban mencapai 3.428, mencakup 3.379 demonstran yang tewas dalam rentang waktu 8-12 Januari. Sejumlah intelijen Israel bahkan memperkirakan angka korban bisa mencapai sekitar 5.000 orang, sementara media Iran International melaporkan lebih dari 12.000 jiwa terhitung dalam insiden ini.
Di tengah situasi krisis ini, Prancis mempertimbangkan pengiriman terminal Eutelsat sebagai upaya untuk memfasilitasi akses internet melalui satelit bagi warga Iran. Eutelsat, yang beroperasi dari Paris, memiliki kemampuan untuk menyediakan layanan internet dari luar angkasa.
OneWeb, anak perusahaan Eutelsat, juga muncul sebagai pesaing Starlink milik Elon Musk, yang sebelumnya menawarkan akses gratis di Iran. Bersama-sama, langkah-langkah ini berusaha untuk memulihkan akses informasi dan komunikasi, mendukung masyarakat dalam mendapatkan berita yang akurat dan berimbang.
Baca juga: Kunto Aji: Tanggung Jawab Anggota DPR Harus Ditegaskan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: