Perubahan Karir: Menyikapi Peluang di Era AI bagi Generasi Muda
Krisis ketenagakerjaan yang melanda dunia saat ini membuat banyak lulusan baru, terutama dari Gen Z, kesulitan menemukan pekerjaan yang sesuai. CEO Randstad, Sander van't Noordende, mendorong generasi muda untuk melihat peluang baru di sektor yang lebih seimbang dari segi keterampilan dan permintaan pasar.
Baca juga: Pimpinan DPR RI Bertemu Mahasiswa, Bahas Isu Tunjangan dan Investigasi
Di tengah ancaman kecerdasan buatan yang akan memangkas banyak posisi pekerjaan tradisional, van't Noordende merekomendasikan profesi seperti sopir truk dan barista sebagai pilihan karir yang menjanjikan.
Sander van't Noordende menekankan bahwa jutaan lulusan Gen Z kini terjebak dalam angka pengangguran yang tinggi, terutama saat peluang kerja tradisional menyusut. Menurutnya, kemajuan teknologi, khususnya kecerdasan buatan, diperkirakan akan memangkas hampir 50% posisi white collar pada tahun 2030.
Studi yang dilakukan oleh Stanford University menunjukkan bagaimana disrupsi akibat AI memengaruhi Gen Z, menciptakan ketidakpastian di sektor pekerjaan yang sebelumnya dianggap stabil. Banyak perusahaan teknologi saat ini mengingatkan bahwa kemampuan AI telah menyamai level pekerja entry-level, membuat banyak lulusan baru merasa terasing dari dunia kerja.
Kesulitan ini menciptakan sebuah tantangan serius bagi lulusan yang memasuki pasar kerja tanpa menyesuaikan keterampilan mereka dengan kebutuhan yang ada. Van't Noordende mengingatkan bahwa kondisi pasar kerja saat ini membutuhkan adaptasi yang lebih cepat dan tepat dari generasi muda.
Baca juga: Sejarah Baru: Adrian Wibowo Berdarah Campuran Pertama yang Bermain di MLS
Untuk mengantisipasi perubahan ini, van't Noordende merekomendasikan para lulusan untuk mempertimbangkan profesi yang saat ini banyak diminati di pasar. Ia menyoroti bahwa terdapat permintaan yang besar untuk tenaga terampil di bidang seperti teknisi bangunan, sopir truk, dan bartender.
Ia menyatakan, "Ada permintaan besar untuk tenaga terampil: teknisi mesin, operator mesin, teknisi perawatan, operator forklift, sopir truk, sebut saja," menandakan bahwa gaji pada sektor-sektor ini menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Hal ini menjadi cerminan dari kenyataan baru di mana pekerjaan tradisional tidak selalu menjanjikan keberlangsungan karir.
Dalam konteks ini, tampaknya peran di sektor jasa, termasuk sebagai barista, lebih menjanjikan dibandingkan dengan pekerjaan yang memerlukan gelar tinggi. Ini menunjukkan pergeseran preferensi dan kebutuhan tenaga kerja yang lebih fleksibel dan adaptif.
Van't Noordende berpendapat bahwa sudah saatnya generasi muda fokus pada pengembangan keterampilan yang meningkatkan daya saing di pasar kerja. "Pelajari sebuah keterampilan, keahlian, atau profesi yang bisa memberi penghidupan layak untukmu dan keluargamu. Itu jauh lebih masuk akal," ungkapnya.
Dia juga mengingatkan kepada mereka yang masih mempertimbangkan pendidikan formal, bahwa bidang STEM dapat tetap menjadi pilihan yang relevan. Hal ini sejalan dengan proporsi mahasiswa di bidang STEM yang jauh lebih besar di negara seperti China ketimbang di Amerika Serikat dan Eropa.
Kendati pendidikan tinggi tradisional mulai kehilangan relevansinya, penguasaan keterampilan praktis dan adaptasi terhadap perubahan industri menjadi semakin krusial untuk mencapai keberhasilan di dunia kerja saat ini.
Baca juga: Mengenal Finfluencer: Solusi Cerdas untuk Memahami Keuangan di Era Digital
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: