Upaya Diplomatik AS Berujung pada Pembatalan Serangan Kedua ke Venezuela
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan keputusan untuk membatalkan rencana serangan kedua terhadap Venezuela setelah terjalinnya kerjasama positif dengan pemerintah di Caracas.
Baca juga: iPhone 17 Series: Tanpa SIM Tray, Hanya Mengandalkan eSIM
Dalam pernyataan resminya, Trump menganggap pembebasan tahanan politik dari Venezuela sebagai langkah signifikan menuju perdamaian.
Dalam keterangannya di media sosial, Trump menyebut, "AS dan Venezuela bekerja sama dengan baik, terutama dalam hal membangun kembali, dalam bentuk yang jauh lebih besar, lebih baik, dan lebih modern, infrastruktur minyak dan gas mereka."
Pernyataan ini muncul pasca peningkatan ketegangan akibat operasi militer yang bertujuan menangkap Presiden Nicolas Maduro, yang berujung pada kematian 24 petugas keamanan Venezuela.
Meski serangan dibatalkan, Trump menegaskan bahwa kapal-kapal AS akan tetap berada di daerah tersebut untuk menjaga keamanan.
Ia juga mengancam akan melakukan serangan darat terhadap kartel narkoba di Meksiko serta mempertimbangkan kemungkinan operasi militer di Kolombia.
Jorge Rodríguez, kepala Majelis Nasional Venezuela, mengungkapkan bahwa Venezuela telah membebaskan beberapa warga negara asing dari penjara, langkah yang dilihat Trump sebagai indikasi usaha untuk menciptakan perdamaian.
Baca juga: Respons Google Terkait Isu Keamanan Gmail dan Phishing
Sementara itu, AS terus mendesak agar tahanan politik di Venezuela juga dibebaskan, dengan Trump menyatakan komitmennya untuk berinvestasi di sektor energi Venezuela mencapai minimal US$100 miliar.
Minat investasi ini menunjukkan keinginan AS untuk terlibat lebih dalam dalam perbaikan dan pengembangan infrastruktur energi di negara tersebut.
Upaya ini dipandang sebagai bagian dari strategi untuk mempengaruhi perubahan dalam pemerintahan Venezuela.
Pengaruh Trump dalam melancarkan serangan tampaknya akan terbatasi setelah Senat memberikan suara mendukung resolusi kekuatan perang, dengan beberapa anggota Partai Republik juga menunjukkan penolakan terhadap penggunaan kekuatan militer.
Mantan Penasihat Keamanan Nasional, John Bolton, berkomentar bahwa Trump sedang "melegitimasi kembali rezim Maduro" dan mempertanyakan keberhasilan langkah-langkah politik yang diambil AS.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: