Donald Trump Menjawab Isu Kesehatan dan Memar di Tangan
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa memar di tangannya disebabkan oleh penggunaan aspirin secara rutin. Dalam wawancara dengan The Wall Street Journal, ia membantah isu kesehatan yang mengganggu, menegaskan bahwa kondisinya tetap sehat.
Baca juga: Pecat Anggota Polri Terkait Kematian Ojol, Kompol Cosmas Kaju Gae Jadi Sorotan
Ia juga memberikan klarifikasi mengenai hasil pemindaian medis yang telah dilakukannya dan meluruskan tuduhan bahwa dirinya tertidur saat acara publik. Menurutnya, semua analisis hasil pemeriksaan menunjukkan hasil yang menggembirakan.
Dalam wawancara yang dipublikasikan pada 2 Januari 2026, Trump mengklarifikasi bahwa pemindaian medis yang ia jalani bukanlah MRI, melainkan CT scan yang lebih cepat. "Apa pun yang mereka analisis, mereka menganalisisnya dengan baik, dan mereka mengatakan bahwa saya memiliki hasil sebaik yang pernah mereka lihat," ujarnya.
Klarifikasi ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai kesehatan Trump, terutama mengingat usianya yang kini 79 tahun. Pertanyaan tentang kesehatan presiden selalu menjadi isu sensitif, dan kejelasan mengenai hasil pemeriksaan medis sangat penting bagi publik.
Baca juga: DPR Hentikan Tunjangan Perumahan, Menjamin Transparansi Anggaran
Trump menjelaskan bahwa memar yang terlihat di tangannya adalah akibat dari aspirinnya yang dikonsumsi setiap hari untuk mengencerkan darah. Ia menekankan, "Saya tidak ingin darah kental mengalir melalui jantung saya," menggambarkan perhatian medis yang ia terima.
Dalam penjelasannya, ia juga mengungkapkan bahwa beberapa memar mungkin disebabkan oleh insiden kecil, seperti ketika Jaksa Agung AS, Pam Bondi, secara tidak sengaja memukul tangannya saat mereka saling memberi tos. Hal ini menunjukkan bahwa penyebab memar tersebut tidak selalu berkaitan dengan kondisi kesehatan serius.
Menjawab tuduhan mengenai dirinya yang tertidur selama pertemuan di Ruang Oval, Trump menolak anggapan tersebut. Ia menyatakan bahwa saat itu sebenarnya hanya mengalami momen relaksasi dan menegaskan, "Saya tidak pernah menjadi orang yang banyak tidur."
Ia menambahkan, momen tersebut terjadi saat ia berkedip, yang kemudian dikira sebagai tampak tertidur. Hal ini menyoroti bagaimana citra publik seorang presiden dapat sangat dipengaruhi oleh cara media menggambarkan situasi tertentu.
Baca juga: iPhone 17 Series: Tanpa SIM Tray, Hanya Mengandalkan eSIM
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: