Inovasi Vaksin Heksavalen: Memudahkan Imunisasi Anak di Indonesia
Kementerian Kesehatan Indonesia tengah mempersiapkan peluncuran vaksin heksavalen sebagai langkah baru dalam program imunisasi anak. Vaksin ini dirancang untuk mencegah enam penyakit serius dengan satu suntikan.
Baca juga: Kemenperin: Izin Penjualan iPhone 17 Belum Diterima, Namun Investasi Apple Terus Berjalan
Dikenal sebagai DPT-Hb-Hib-IPV, vaksin ini akan diberikan pada anak-anak pada usia dua, tiga, dan empat bulan, bertujuan tidak hanya untuk mengurangi jumlah suntikan yang diperlukan, tetapi juga untuk meningkatkan efektivitas imunisasi.
Vaksin heksavalen dihasilkan dari penggabungan dua jenis vaksin yang sudah ada, yaitu DPT-Hb-Hib dan IPV. Dengan inovasi ini, jumlah suntikan yang diperlukan untuk anak-anak diharapkan berkurang, sehingga mempercepat pembentukan kekebalan masyarakat.
Direktur Imunisasi Kemenkes RI, Indri Yogyaswari, menjelaskan pentingnya terobosan ini. "Isi vaksinnya bukan hal yang baru, cuma pemberiannya itu dicarikan terobosan, sehingga diharapkan lebih mudah pemberiannya pada anak-anak. Yang awalnya dari dua suntikan, menjadi satu suntikan."
Baca juga: Kunto Aji Kritik Status Selebriti di DPR: Semua Harus Akuntabel
Vaksin heksavalen akan melindungi anak-anak dari enam penyakit berbahaya: difteri, pertusis, tetanus, polio, hepatitis B, dan infeksi haemophilus influenzae type B. Penyakit-penyakit ini bisa menyebabkan komplikasi serius, termasuk radang selaput otak dan pneumonia.
Dari data yang ada, rendahnya tingkat cakupan imunisasi menjadi perhatian bagi Kementerian Kesehatan. Dengan inovasi vaksin ini, diharapkan orang tua lebih aktif dalam melaksanakan imunisasi untuk anak-anak mereka.
Pada saat ini, program imunisasi heksavalen sedang dilaksanakan di sembilan provinsi, termasuk Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, dan beberapa daerah lainnya di Papua. Rencana bertahap ini mencakup target untuk menjangkau seluruh Indonesia pada tahun 2026.
Imunisasi dapat dilakukan di berbagai fasilitas kesehatan, seperti puskesmas dan posyandu. Orang tua diharuskan membawa buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) untuk memantau kemajuan imunisasi anak.
Baca juga: 5 Kota di Indonesia yang Pas untuk Liburan Sendirian
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: