Klarifikasi Gubernur Aceh Terkait Permintaan Bantuan ke PBB
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, memberikan klarifikasi mengenai surat yang mengundang kontroversi setelah dianggap meminta bantuan langsung kepada PBB. Dalam pernyataannya, Manaf menegaskan bahwa surat tersebut sebetulnya ditujukan kepada lembaga non-pemerintah yang beroperasi di Aceh.
Baca juga: Memahami Self Love: Langkah Awal Menuju Hubungan yang Sehat
Pernyataan ini dilandasi kritik publik yang menganggap Pemerintah Aceh mengabaikan prosedur penanganan bencana yang seharusnya dikoordinasikan dengan pemerintah pusat. Gubernur menjelaskan bahwa kesalahpahaman tersebut telah menyebar di masyarakat.
Muzakir Manaf, yang lebih dikenal dengan sapaan Mualem, menegaskan bahwa dia tidak menguasai detail mengenai surat yang menjadi sumber polemik. "Saya tidak tahu apa-apa, sebenarnya keliru, bukan ke PBB, kepada LSM yang ada di Aceh," papar Mualem saat wawancara di Banda Aceh.
Klarifikasi ini muncul seusai penyerahan bantuan kemanusiaan dari Kementerian Sosial yang dilakukan secara simbolis oleh Menteri Sosial, Saifullah Yusuf, di kantor Gubernur Aceh. Momen ini dipandang penting untuk memberikan penjelasan terkait surat yang dinilai kontroversial oleh publik.
Baca juga: Kunto Aji Kritik Status Selebriti di DPR: Semua Harus Akuntabel
Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA, menjelaskan bahwa mispersepsi di masyarakat menganggap surat itu ditujukan kepada PBB. "Ada salah pemahaman, itu untuk lembaga yang ada di Indonesia, bukan untuk PBB," tegasnya.
Surat tersebut ditujukan kepada UNDP dan UNICEF, kedua lembaga yang memiliki program pengembangan di Aceh, bukan kepada lembaga internasional secara langsung. MTA menuntaskan, dengan adanya keterlibatan lembaga tersebut, perlunya dukungan dalam penanganan bencana provinsi saat ini.
Saat ini, status bencana yang melanda Aceh masih berada dalam kategori tingkat provinsi, di mana penanganannya tetap menjadi perhatian pemerintah pusat. Meskipun situasi ini, MTA meyakinkan bahwa Pemerintah Aceh berupaya strategis untuk memperkuat penanganan bencana.
UNDP dan UNICEF diketahui memiliki peranan penting dalam program pemulihan di Aceh. MTA mengungkapkan, "Kami berharap mereka tetap punya program, terutama pemulihan pasca-bencana, untuk bisa berkomunikasi dengan Pemerintah Indonesia, untuk tetap memiliki program itu."
Baca juga: BEM SI Kerakyatan Batalkan Demo di Jakarta Karena Kondisi Tak Kondusif
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: