BREAKING NEWS
|
KAMIS, 04/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Jumat, 12 DESEMBER 2025 • 14:28 WIB

Pembubaran Parlemen Thailand dan Implikasinya dalam Situasi Perang dengan Kamboja

Pembubaran Parlemen Thailand dan Implikasinya dalam Situasi Perang dengan KambojaPembubaran Parlemen Thailand dan Implikasinya dalam Situasi Perang dengan Kamboja

Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul secara resmi membubarkan parlemen pada Jumat, 12 Desember 2025, setelah mendapatkan persetujuan dari Raja Thailand Maha Vajiralongkorn.

Baca juga: Presiden Prabowo Subianto Temui Pimpinan Serikat Pekerja: Diskusi Aksi Buruh dan RUU Perampasan Aset

Langkah ini diambil untuk mempercepat pelaksanaan pemilihan umum di tengah situasi perang berkepanjangan dengan Kamboja.

Keputusan Pembubaran Parlemen

Keputusan resmi yang dikeluarkan melalui dekrit yang diterbitkan dalam Lembaran Kerajaan menekankan bahwa pembubaran DPR diperlukan untuk menggelar pemilihan umum baru bagi anggota Dewan.

Juru bicara pemerintah, Siripong Angkasakulkiat, mengungkapkan bahwa langkah ini diambil setelah tidak tercapainya kesepakatan dengan kelompok oposisi terbesar, Partai Rakyat.

Siripong menjelaskan, 'Ini terjadi karena kami tidak bisa maju dalam parlemen', yang menunjukkan ketidakstabilan politik yang menyertai langkah tersebut.

Baca juga: Menemukan Kebahagiaan dalam Momen Sederhana

Situasi Perang dengan Kamboja

Pembubaran parlemen berlangsung bersamaan dengan bentrokan bersenjata yang telah berlangsung selama empat hari di perbatasan dengan Kamboja, yang telah merenggut nyawa 20 orang dan melukai sekitar 200 lainnya.

Perdana Menteri Anutin memberi penegasan kepada wartawan bahwa pembubaran parlemen tidak akan mempengaruhi operasi militer yang sedang berlangsung di sepanjang perbatasan.

Pihak militer terlibat dalam kontak senjata yang melibatkan artileri berat di lebih dari belasan lokasi, memperlihatkan eskalasi ketegangan antara kedua negara.

Raja Thailand Mengesahkan Dekrit

Raja Thailand Maha Vajiralongkorn menandatangani dekrit yang memungkinkan pemilihan umum dipercepat, sesuai dengan ketentuan Undang-undang yang menyatakan bahwa pemilu harus dilaksanakan dalam rentang 45 hingga 60 hari ke depan.

Situasi politik di Thailand saat ini dipenuhi dengan ketidakpastian, menjadikan pembubaran parlemen sebagai langkah strategis untuk meredakan ketegangan politik di tengah konflik bersenjata.

Dengan latar belakang kondisi yang tidak stabil, keberlanjutan pemerintahan dan situasi ketertiban umum kini menjadi perhatian utama bagi pihak berwenang.

Baca juga: Kompetisi Ketat: Manchester United dan Manchester City Berburu Kiper Baru

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Pembubaran Parlemen Thailand dan Implikasinya dalam Situasi Perang dengan Kamboja

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!