Ancaman Kesehatan Pasca Banjir di Sumatera: Penyakit yang Mengintai
Banjir yang menerjang beberapa daerah di Sumatera tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga memicu risiko penyebaran berbagai penyakit serius. Kondisi lingkungan yang kotor dan akses yang terbatas terhadap air bersih memperburuk keadaan kesehatan masyarakat.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China untuk Merayakan 80 Tahun Kemenangan Rakyat
Epidemiolog Dicky Budiman dari Griffith University mengidentifikasi empat penyakit utama yang berpotensi menjadi wabah pasca bencana banjir, yang relevansinya melintasi batas negara.
Leptospirosis menjadi salah satu penyakit yang dominan muncul setelah banjir. Dicky menegaskan, "Leptospirosis sekarang itu yang tinggi potensi menjadi wabah" akibat paparan manusia terhadap air kencing tikus dan hewan reservoir lainnya.
Kondisi ini diperburuk dengan meningkatnya interaksi masyarakat dengan lingkungan yang tercemar. Peningkatan tingkat penularan bakteri Leptospira menjadi perhatian serius bagi kesehatan masyarakat pascabanjir.
Penyakit berbasis fekal-oral, seperti diare, menjadi risiko tinggi pasca banjir. Kondisi sanitasi yang buruk dan sumur dangkal yang terkontaminasi air banjir memicu beragam infeksi.
Baca juga: Proses Penyelidikan Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni
Dicky mengungkapkan, "Orang BAB atau kencing dimana saja" menjadi salah satu pemicu penyebaran penyakit ini. Dengan terbatasnya fasilitas mencuci tangan di lokasi pengungsian, risiko penularan penyakit fekal-oral meningkat drastis.
Demam tifoid (tipes) juga meningkat setelah banjir. Dicky menjelaskan, "Makanan dan minuman mudah terkontaminasi oleh air banjir", memicu penyebaran bakteri penyebab demam tifoid.
Risiko ini mengharuskan masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap konsumsi makanan dan minuman setelah bencana, demi mencegah meningkatnya kasus infeksi.
Genangan air yang tersisa setelah banjir menjadi tempat berkembang biak ideal bagi nyamuk, meningkatkan risiko penyakit demam berdarah dengue dan malaria. Dicky mencatat, "Ini biasanya terjadinya satu bulan pasca bencana, jadi agak lebih lama."
Kesadaran akan keberadaan penyakit terkait vektor ini menjadi penting, terutama ketika komunitas berusaha pulih dari dampak bencana.
Baca juga: Sherina Munaf Selamatkan Kucing dari Rumah Uya Kuya Pasca Perampokan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: