TNI Hentikan Penyaluran Bantuan Bencana Melalui Penjatuhan Dari Helikopter
Tentara Nasional Indonesia (TNI) telah mengumumkan penghentian penyaluran bantuan kepada korban bencana banjir dan tanah longsor di Sumatra melalui metode penjatuhan dari helikopter. Keputusan ini diambil setelah viralnya video yang menunjukkan bantuan tersebut hancur dan tercecer saat dijatuhkan dari udara.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Jadi Warga Negara Indonesia
Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal Maruli Simanjuntak, menjelaskan bahwa penjatuhan dilakukan karena tidak ada landasan yang memadai untuk mendarat. TNI berupaya untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
Jenderal Maruli menegaskan bahwa metode penjatuhan digunakan karena kondisi darurat yang tidak memungkinkan helikopter mendarat. "Jadi heli itu tidak bisa mendarat di manapun, jadi harus landasannya siap," jelasnya di Lanud Halim Perdanakusuma.
Setelah menerima laporan tentang paket bantuan yang rusak, TNI segera melakukan evaluasi untuk mencegah kejadian yang serupa. "Setelah ada yang pecah kita evaluasi lagi, sekarang kita berupaya supaya tidak terjadi lagi," tambahnya.
Baca juga: Tragedi di Lima: Staf KBRI Zetro Leonardo Purba Tewas Ditembak
Panglima TNI, Jenderal Agus Subiyanto, menekankan pentingnya menjaga keamanan personel saat memberikan bantuan. Hal ini berkaitan dengan insiden tragis di mana tiga prajurit TNI meninggal dunia saat penyaluran bantuan.
"Saya tekankan dalam penanganan perbantuan agar tetap menjaga keamanan personel dan Alutsista yang digunakan," kata Agus. Keputusan pilot untuk menjatuhkan barang pengiriman, bukannya mengembalikannya ke pangkalan, juga memicu kekhawatiran akan kerugian barang bantuan.
Video yang menjadi viral memperlihatkan kekecewaan masyarakat di Desa Manalu Purba, Kecamatan Parmonangan saat menerima bantuan. Mereka menunggu kedatangan helikopter, tetapi justru menyaksikan barang dijatuhkan dari udara.
"Sehingga diputuskan oleh pilot, barang itu tetap di-drop, walaupun mungkin ada beberapa beras yang tercecer," ungkap Agus, menjelaskan situasi saat itu. Banyak warga berusaha memungut beras yang berserakan meskipun sebagian besar telah hancur.
Baca juga: Calvin Verdonk Dekat dengan Lille: Peluang Emas untuk Karier
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: