Semakin tingginya ketergantungan pada teknologi dan gadget dalam kehidupan sehari-hari mendorong banyak orang untuk mengeksplorasi konsep 'digital detox'. Liburan tanpa gangguan teknologi menjadi salah satu pilihan bagi mereka yang ingin melepas penat dan kembali berfokus pada diri sendiri.
Baca juga: Kunto Aji: Tanggung Jawab Anggota DPR Harus Ditegaskan
Ubud, yang dikenal sebagai pusat seni dan budaya Bali, menawarkan lingkungan yang damai dan alami. Suasana hutan tropis dan sawah yang menghijau membuat pengunjung dapat merasakan ketenangan.
Banyak resort di Ubud, seperti Bisma Eight, yang menawarkan aktivitas tanpa layar, seperti yoga dan meditasi. Hal ini memungkinkan pengunjung untuk terhubung dengan alam sekitar dan diri mereka sendiri.
Selain itu, berbagai kegiatan seni seperti kelas melukis dan tari tradisional juga mendukung pengalaman 'digital detox'. Dengan demikian, Ubud menjadi salah satu pilihan teratas bagi mereka yang mencari pelarian dari dunia digital.
Pulau Komodo, yang terkenal dengan hewan purba komodonya, juga menyimpan keindahan alam yang sangat menakjubkan. Suasana di pulau ini menciptakan suasana yang jauh dari kebisingan teknologi dan memberikan kesempatan untuk menjelajahi kekayaan alam.
Baca juga: Tips Menciptakan Kamar Kecil yang Cozy dan Nyaman
Kegiatan seperti trekking di hutan Komodo dan snorkeling di perairan sekitarnya sangat dianjurkan bagi mereka yang ingin menikmati keindahan alam tanpa gangguan gadget. Pengunjung dapat merasakan kedamaian saat berada di tengah alam yang liar.
Dengan jumlah pengunjung yang terbatas dan kebijakan yang rendah terhadap penggunaan perangkat elektronik, Pulau Komodo menjadi tempat pelarian yang ideal bagi mereka yang ingin menghindar dari kesibukan kehidupan sehari-hari.
Desa Sade yang terletak di Lombok merupakan contoh sempurna dari tinggal di lingkungan yang masih kental dengan budaya lokal. Keberadaan rumah-rumah tradisional dan kebudayaan Sasak yang kuat membuat desa ini menjadi tempat yang ideal untuk melakukan 'digital detox'.
Di Desa Sade, pengunjung dapat berpartisipasi dalam kegiatan tradisional seperti tenun dan memasak dengan bahan lokal. Hal ini membantu mengalihkan fokus dari penggunaan gadget ke kegiatan yang lebih bermanfaat dan menyenangkan.
Selain interaksi langsung dengan masyarakat lokal, pemandangan alam yang indah di sekeliling desa semakin melengkapi pengalaman pelarian ini.
Baca juga: Pemeriksaan Yaqut Cholil Qoumas oleh KPK Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: