Pembangunan Gerbang Gedung Sate: Antara Identitas Budaya dan Kontroversi Masyarakat
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan bahwa gerbang Gedung Sate tidak termasuk dalam kategori cagar budaya.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer yang Menghebohkan
Ia menjelaskan bahwa pembangunan gerbang tersebut telah melalui analisis dari para ahli di bidang teknik sipil.
Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa desain gerbang baru Gedung Sate diambil dari nilai-nilai budaya Kacirebonan. Ia merujuk bahwa jejak sejarah peradaban Sunda lebih banyak ditemukan dalam bentuk candi dan bangunan.
Menurutnya, peninggalan kesenian Siliwangi hampir tidak dapat ditemukan dalam bentuk bangunan, sehingga gapura yang dihasilkan berakar pada tradisi Kacirebonan yang berbaur dengan kebudayaan Mataram dan Majapahit.
"Peninggalan bangunan yang masih ada tersisa adalah budaya Kacirebonan, gapura itu berasal dari nilai-nilai budaya Kacirebonan, dan Kacirebonan mengadopsi dari kebudayaan Mataram dan Majapahit, jadi di situ yang disebut dengan candi bentar," ujarnya.
Baca juga: Calvin Verdonk Dekat dengan Lille: Peluang Emas untuk Karier
Menanggapi polemik yang berkembang di media sosial, Dedi Mulyadi menyatakan bahwa pendapat warganet tidak bisa dijadikan sebagai acuan. Ia menekankan pentingnya mengikuti pandangan para ahli, bukan reaksi netizen.
"Jangan ngikutin netizen. Kita ngikutin arsitek, gitu loh. Kalau ngikutin netizen, enggak akan selesai-selesai, nanti ada banyak versinya," tegasnya.
Dengan demikian, Dedi menyatakan bahwa pembangunan gerbang Gedung Sate sudah melalui kajian mendalam untuk memastikan tata ruang yang sesuai dengan kehistorisan.
Dedi Mulyadi juga menyoroti bahwa banyak warganet yang memuji desain gerbang baru tersebut. Ia mengatakan bahwa kehadiran arsitek yang ahli di bidang penataan ruang sangat penting dalam proses pembangunan.
"Kita ikutin arsitek yang ahli di bidang penataan ruang, terutama untuk membangun, menata, menyempurnakan ruang-ruang gedung yang bersejarah," ujarnya.
Dengan demikian, Dedi berharap bahwa masyarakat dapat memahami dan mendukung desain yang diambil untuk menghormati warisan budaya yang ada.
Baca juga: Tips Menciptakan Kamar Kecil yang Cozy dan Nyaman
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: