Industri Pariwisata Jepang: Ketahanan di Tengah Boikot Wisata dari China
Industri pariwisata Jepang mengalami guncangan akibat seruan boikot wisata yang dikeluarkan oleh Beijing. Meskipun penurunan jumlah wisatawan asal China terlihat, pelaku bisnis lokal tetap optimis menghadapi tantangan ini.
Baca juga: Kemenperin: Izin Penjualan iPhone 17 Belum Diterima, Namun Investasi Apple Terus Berjalan
Beijing mendorong warganya untuk menghindari perjalanan ke Jepang terkait situasi politik yang memanas, terutama mengenai Taiwan. Namun, beberapa pengusaha melaporkan bahwa penjualan melalui pelanggan domestik tetap bisa dipertahankan.
Beberapa pelaku bisnis pariwisata di Jepang mengalami dampak dari seruan boikot yang diluncurkan oleh China. Shiina Ito, seorang pebisnis di industri perhiasan, mengakui bahwa jumlah pelanggan dari China di tokonya mengalami penurunan yang cukup signifikan.
Ito mengungkapkan bahwa pelanggan asal China biasanya menyumbang setengah dari total pembeli di tokonya yang terletak di Asakusa, Tokyo. Meski begitu, ia mencatat bahwa penurunan tersebut tidak terlalu mempengaruhi penjualan secara keseluruhan.
Dalam pengamatannya, ia menambahkan, "Karena jumlah pelanggan Tiongkok lebih sedikit, pembeli Jepang menjadi sedikit lebih mudah untuk berkunjung, jadi penjualan kami tidak terlalu turun," mencerminkan sikap optimis di tengah tantangan yang ada.
Baca juga: Kunto Aji Kritik Status Selebriti di DPR: Semua Harus Akuntabel
Jepang memiliki ketergantungan yang signifikan terhadap wisatawan asal China, yang dikenal dengan pengeluaran yang lebih tinggi dibandingkan wisatawan asing lainnya. Rata-rata, pengunjung Tiongkok menghabiskan uang dalam jumlah yang lebih besar untuk konsumsi di berbagai sektor, mulai dari makanan hingga perawatan kulit.
Di Ginza, distrik perbelanjaan terkenal di Tokyo, Yuki Yamamoto, manajer restoran mi udon, mengatakan bahwa walaupun ia belum melihat dampak langsung dari pembatasan perjalanan oleh China, ia tetap waspada terhadap penurunan pelanggan ke depannya.
"Saya rasa tidak ada perubahan yang tiba-tiba dan dramatis," ungkap Yamamoto, meskipun ia memperkirakan bahwa setengah dari pengunjung yang mengantre di restorannya adalah orang China.
Data resmi menunjukkan bahwa pada sembilan bulan pertama tahun 2025, Jepang menerima hampir 7,5 juta pengunjung dari China, yang merupakan seperempat bagian dari total wisatawan mancanegara. Meski ada penurunan, kunjungan ini masih cukup signifikan bagi industri pariwisata Jepang.
Wisatawan asal China tercatat mengeluarkan dana sebesar US$3,7 miliar pada kuartal ketiga tahun ini. Selain itu, Organisasi Pariwisata Nasional Jepang mencatat bahwa pengunjung asal China menghabiskan rata-rata 22 persen lebih banyak daripada wisatawan dari negara lain.
Namun, peningkatan jumlah wisatawan yang mengunjungi Jepang juga menimbulkan kekhawatiran mengenai pariwisata berlebihan yang dapat berdampak pada kehidupan sehari-hari masyarakat lokal.
Baca juga: Calvin Verdonk Dekat dengan Lille: Peluang Emas untuk Karier
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: