Pemahaman Mendalam tentang Pterygium: Gangguan Mata yang Dapat Dihindari
Pterygium adalah kondisi mata yang bisa mengganggu kualitas penglihatan akibat paparan sinar ultraviolet secara berlebihan. Tanpa penanganan yang tepat, masalah ini dapat berkembang menjadi lebih serius.
Baca juga: DPR Hentikan Tunjangan Perumahan, Menjamin Transparansi Anggaran
Gejala awal pterygium sering kali terdiri dari kemerahan dan iritasi pada bagian putih mata. Tingginya prevalensi kondisi ini di Indonesia, terutama di daerah panas, memerlukan perhatian lebih.
Pterygium merupakan pertumbuhan jaringan abnormal di permukaan mata yang terlihat seperti selaput putih menjulur dari bagian putih mata ke kornea. Kondisi ini biasanya terjadi pada kedua mata dan lebih umum di kalangan individu yang banyak menghabiskan waktu di luar ruangan.
Paparan sinar UV dari matahari adalah penyebab utama pterygium. Faktor lingkungan seperti debu dan angin juga dapat berkontribusi terhadap perkembangan penyakit ini.
Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa prevalensi pterygium cukup tinggi di Indonesia, terutama di daerah yang terpapar sinar matahari secara langsung dalam waktu lama.
Baca juga: Pelatih Timnas Korea Selatan U-23 Siap Hadapi Tantangan di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Gejala yang paling umum dari pterygium meliputi kemerahan, iritasi, serta sensasi berpasir atau gatal pada mata. Dalam tahap yang lebih parah, pterygium dapat menyebabkan penglihatan menjadi kabur.
Diagnosis pterygium dapat dilakukan oleh dokter spesialis mata melalui pemeriksaan fisik yang seksama. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan tingkat keparahan kondisi mata.
Dokter mungkin menggunakan alat optik tertentu untuk memperjelas kondisi yang ada, sehingga langkah perawatan yang tepat dapat ditentukan.
Sebagai langkah awal, perawatan untuk pterygium dapat melibatkan pemberian tetes mata untuk mengurangi peradangan dan ketidaknyamanan. Jika pterygium cukup besar dan memengaruhi penglihatan, tindakan bedah mungkin diperlukan.
Penggunaan kacamata hitam yang memiliki perlindungan terhadap sinar UV sangat dianjurkan untuk mencegah terjadinya pterygium. Selain itu, menghindari paparan sinar matahari langsung selama jam-jam tertentu juga dapat menekan risiko.
Masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar untuk mengurangi debu dan polusi yang dapat memperburuk kondisi pterygium.
Baca juga: Mengenal Finfluencer: Solusi Cerdas untuk Memahami Keuangan di Era Digital
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: