FOMO: Ketika Ketinggalan Bisa Menjadi Beban Mental
Di era digital yang serba cepat ini, fenomena 'Fear of Missing Out' atau FOMO semakin menjadi sorotan. Banyak orang mengalami tekanan untuk selalu mengikuti informasi terbaru dan tren yang sedang hits.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Prediksi menunjukkan bahwa pada 2025, kondisi ini akan semakin meningkat, seiring kemajuan teknologi yang memudahkan akses ke berbagai konten. Pengguna media sosial kini berjuang keras untuk tidak ketinggalan momen-momen penting dalam hidup mereka.
FOMO atau Fear of Missing Out adalah perasaan cemas yang muncul ketika seseorang merasa ketinggalan informasi atau pengalaman. Istilah ini mulai populer seiring perkembangan media sosial dan munculnya berbagai platform digital.
Seseorang yang mengalami FOMO sering merasa tertekan untuk selalu terhubung, mengikuti tren terbaru, dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang sedang 'in'. Jenis kecemasan ini dapat mempengaruhi kualitas hidup dan kesehatan mental individu.
Misalnya, pengguna Instagram yang melihat teman-teman mereka pergi ke acara seru dapat merasa terasing jika tidak ikut. Merasakan perasaan ini, mereka merasa dipaksa untuk turut serta agar tidak ketinggalan momen yang dianggap penting.
Baca juga: Djokovic Melaju ke Semifinal US Open 2025 Usai Kalahkan Fritz
Teknologi berperan besar dalam meningkatkan tingkat FOMO. Dengan smartphone yang terhubung ke internet, informasi dan pembaruan beredar dengan sangat cepat, memicu ketidakpastian di kalangan pengguna media sosial.
Prediksi untuk tahun 2025 menunjukkan bahwa dengan meningkatnya penggunaan teknologi seperti augmented reality dan virtual reality, pengalaman manusia akan semakin meluas. Hal ini dapat memicu perasaan bahwa individu harus mengonsumsi seluruh konten untuk tidak merasa tertinggal.
Sebagian besar aplikasi media sosial dilengkapi dengan fitur notifikasi yang terus membombardir pengguna dengan informasi baru. Menurut seorang ahli psikologi, "Pengguna cenderung memeriksa ponsel mereka setiap beberapa menit untuk memastikan tidak ada yang terlewat."
Menyadari perasaan FOMO adalah langkah awal untuk menghadapinya. Dengan mengenali emosi ini, individu dapat mulai untuk tidak terlalu terikat pada apa yang mereka lihat di media sosial.
Mengatur batasan dalam penggunaan media sosial juga bisa menjadi solusi. Misalnya, menentukan jam tertentu untuk berinteraksi di dunia maya diharapkan dapat mengurangi rasa cemas akibat FOMO.
Fokus pada pengalaman nyata dan hubungan interpersonal juga dapat membantu menyempitkan jurang antara dunia maya dan kenyataan. Walaupun menghadapi FOMO bukanlah hal yang mudah, beberapa langkah sederhana dapat meminimalisir dampak negatifnya.
Baca juga: Pimpinan DPR RI Bertemu Mahasiswa, Bahas Isu Tunjangan dan Investigasi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: