Komet 3I/ATLAS: Fenomena Hijau Cemerlang yang Menarik Perhatian Astronom
Komet 3I/ATLAS kembali mencuri perhatian dengan penampakan hijau cemerlangnya, yang membuat banyak orang bertanya-tanya. Namun, para ilmuwan menegaskan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam fenomena ini.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Jadi Warga Negara Indonesia
Citra terbaru dari Lowell Observatory menunjukkan keunikan komet yang hanya tercatat tiga kali di Tata Surya, memberikan kesempatan bagi astronom untuk mempelajari materi unik yang dibawa oleh komet antarbintang ini.
Komet 3I/ATLAS, yang merupakan komet antarbintang, menarik perhatian banyak orang berkat penampilannya yang menawan. Peneliti Qicheng Zhang telah berhasil menangkap citra baru dari komet ini saat melesat menjauhi Matahari pada 5 November.
Sebelumnya, komet ini bersembunyi di balik Matahari, dan mencapai titik terdekatnya pada tanggal 29 Oktober. Proses ini menghasilkan warna hijau cemerlang yang terlihat, disebabkan oleh pembentukan koma akibat perlakuan panas dari Matahari.
Koma terbentuk ketika es dan material dari inti komet menyublim menjadi gas. Warna hijau komet disebabkan oleh partikel karbon diatomik, yang digunakan Zhang dalam filter khusus untuk mendeteksi cahaya yang dipancarkan.
Baca juga: Manchester United Rekrut Kiper Senne Lammens di Detik Terakhir Bursa Transfer
Mengamati penampakan terbaru, terlihat bahwa ekor debu komet tampak 'menghilang'. Namun, Zhang menjelaskan bahwa ekor tersebut sebenarnya masih ada, hanya saja posisinya membuatnya tidak begitu terlihat.
Pendar asimetris ini disebabkan oleh sudut pandang kita terhadap ekor yang hampir berhadapan langsung. Ekor tersebut melengkung sedikit ke kiri, sehingga tidak terlihat jelas, dan hal ini bukan indikasi adanya masalah pada komet.
Zhang menyatakan bahwa kurangnya ekor yang jelas bukanlah sesuatu yang patut dikhawatirkan, dan kompleksitas dalam pengamatan komet ini menunjukkan banyak hal yang menarik untuk diteliti.
Komet 3I/ATLAS telah menjadi objek yang menarik bagi para astronom, namun mereka memastikan bahwa ini adalah komet biasa yang berasal dari sistem bintang lain. Penelitian lebih lanjut ditargetkan untuk memahami kisah di balik komet ini.
3I/ATLAS merupakan pendatang antarbintang ketiga yang tercatat dan bisa jadi adalah komet tertua yang pernah disaksikan. Studi awal menunjukkan bahwa usianya bisa mencapai lebih dari 3 miliar tahun lebih tua dari Tata Surya.
Satu lagi kekhawatiran yang muncul adalah radiasi antariksa yang berkepanjangan, yang dapat membuat komet ini memiliki kerak tebal. Jika material yang dikeluarkan merupakan hasil dari radiasi, menentukan asal usul komet ini bisa menjadi lebih rumit.
Baca juga: Pelatih Timnas Korea Selatan U-23 Siap Hadapi Tantangan di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: