Rasa Iri dan Dendam dalam Budaya Indonesia: Sebuah Tinjauan Psikologis
Rasa iri seringkali berkembang menjadi emosi yang lebih gelap, seperti dendam. Dalam konteks budaya Indonesia, banyak yang percaya bahwa rasa dendam dapat diekspresikan melalui praktik negatif seperti santet.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Jadi Warga Negara Indonesia
Iri hati adalah emosi umum yang muncul ketika seseorang merasa kurang dibandingkan orang lain. Dalam banyak kasus, rasa iri dapat berfungsi sebagai motivasi untuk berubah, tetapi pada titik tertentu bisa bertransformasi menjadi dendam.
Rasa iri ini sering kali dihubungkan dengan rendahnya rasa percaya diri dan pengalaman kekecewaan. Ini menunjukkan bahwa individu yang merasa terancam oleh keberhasilan orang lain cenderung lebih rentan terhadap emosi negatif.
Ketika rasa iri tidak dikelola, ia memicu reaksi fisiologis yang dapat menyebabkan perilaku agresif. Proses ini merupakan bagian dari mekanisme pertahanan psikologis yang diaktifkan oleh rasa terancam.
Dendam, sebagai pengembangan dari rasa iri, sering kali memasuki ranah yang lebih gelap dalam psikologi manusia. Saat seseorang memutuskan untuk mengekspresikan dendam, ada kecenderungan untuk ingin melihat orang lain menderita.
Baca juga: Desta Dukung Tuntutan 17+8, Ingatkan Prabowo untuk Jalankan Janji
Fenomena dendam ini tidak hanya muncul dalam hubungan sosial tetapi juga dalam konteks budaya. Praktik santet, misalnya, merupakan salah satu cara untuk mengekspresikan dendam yang bersifat tradisional dalam masyarakat Indonesia.
Psikolog mengamati bahwa tindakan merugikan orang lain sering kali lebih berkaitan dengan ketidakberdayaan daripada kekuatan. Dalam banyak kasus, mereka yang merasa iri berusaha mencari pengakuan dengan cara yang merusak.
Di Indonesia, santet dianggap sebagai salah satu cara yang efektif untuk merepresentasikan dendam. Masyarakat percaya bahwa dengan mengirimkan energi negatif, seseorang dapat menyakiti orang lain baik secara fisik maupun mental.
Namun, dampak psikologis dari praktik ini tidak bisa diabaikan. Ketakutan akan santet sering kali menciptakan perasaan cemas dan paranoia yang dapat merusak hubungan sosial dalam komunitas.
Psikologi positif mendorong individu untuk mengatasi rasa iri dan dendam dengan cara yang lebih sehat, seperti melalui refleksi diri dan meningkatkan rasa syukur. Ini dianggap sebagai alternatif yang lebih baik dibandingkan ilusi kekuatan yang dihasilkan dari praktik negatif.
Baca juga: Tragedi di Lima: Staf KBRI Zetro Leonardo Purba Tewas Ditembak
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: