Meningkatnya Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) di Era Digital
Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) semakin meningkat seiring dengan perkembangan teknologi informasi, terutama di kalangan pengguna smartphone di Indonesia.
Baca juga: Kasus Tragis Pengemudi Ojek Online Dilibatkan Oknum Brimob Masuk Jalur Pidana
Kebiasaan memeriksa notifikasi telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari, namun hal ini turut mempengaruhi kesehatan mental dan produktivitas individu.
Fear of Missing Out (FOMO) adalah kondisi psikologis yang dirasakan oleh individu ketika merasa cemas jika tidak mendapatkan informasi terbaru. Media sosial berfungsi sebagai pemicu utama FOMO, menyediakan informasi instan yang menarik.
Sosial media menjadi platform yang memungkinkan individu untuk berbagi momen secara real-time. Pengguna sering merasa terdesak untuk ikut serta dalam aktivitas yang mereka lihat di media sosial, sehingga merangsang kebiasaan untuk terus memeriksa notifikasi pada ponsel.
Keberadaan push notification dari berbagai aplikasi semakin memperparah kondisi ini. Setiap bunyi notifikasi menciptakan rasa urgensi untuk memeriksa ponsel, hal ini berdampak tidak hanya pada gangguan konsentrasi tetapi juga mengurangi produktivitas.
Baca juga: Kunto Aji Kritik Status Selebriti di DPR: Semua Harus Akuntabel
Kebiasaan memeriksa notifikasi secara berlebihan dapat memicu berbagai masalah kesehatan mental, seperti stres, kecemasan, hingga depresi. Keinginan untuk tetap terhubung sering kali berujung pada rasa tidak puas yang berkepanjangan.
Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan tingkat FOMO yang tinggi lebih cenderung mengalami masalah dalam hubungan sosial. Mereka sering merasa terasing dan kurang terlibat dalam interaksi sosial secara langsung.
Dalam ranah kesehatan mental, FOMO mendorong individu untuk lebih fokus pada interaksi virtual dibandingkan hubungan yang lebih bermakna di dunia nyata, yang dapat mengurangi kualitas kebahagiaan serta kepuasan hidup secara keseluruhan.
Mengatasi FOMO memerlukan pendekatan yang strategis, dan terkadang dapat melibatkan bantuan profesional. Salah satu langkah awal yang dapat diambil adalah menjadi sadar akan pola penggunaan ponsel dan membatasi waktu yang dihabiskan untuk memeriksa notifikasi.
Pengguna disarankan untuk memprioritaskan aktivitas offline, seperti interaksi langsung dengan keluarga dan teman. Ini tidak hanya meningkatkan kualitas hubungan tetapi juga membantu mengurangi ketergantungan pada perangkat digital.
Teknik mindfulness dan relaksasi juga bisa diterapkan untuk membantu individu merasa lebih tenang dan terhubung dengan diri mereka sendiri tanpa gangguan dari dunia digital.
Baca juga: Unisba dan Unpas Tegaskan Tidak Ada Aparat Masuk Kampus Saat Kericuhan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: