santaitalks.com – Kemiskinan di Indonesia pada Maret 2025 menunjukkan dua wajah yang berbeda antara kawasan perkotaan dan pedesaan. Angka kemiskinan di perkotaan mengalami peningkatan, sedangkan di pedesaan justru menunjukkan penurunan yang menggembirakan.
Deputi Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, menjelaskan berbagai faktor yang menyebabkan perbedaan ini. Meskipun jumlah penduduk miskin di pedesaan lebih tinggi, penurunan angka kemiskinan di desa menjadi sinyal positif bagi sektor pertanian dan akses pangan.
Data terbaru mencatat bahwa kemiskinan di perkotaan mengalami kenaikan signifikan, dengan angka mencapai 6,73% pada Maret 2025. Kenaikan ini tercatat seiring dengan meningkatnya jumlah setengah pengangguran di kota sebesar 0,46 juta jiwa dibandingkan dengan Agustus 2024.
Ateng Hartono menyebut bahwa peningkatan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) laki-laki dari 5,87% menjadi 6,06% juga berkontribusi terhadap kemiskinan di kota. Angka ini menunjukkan dampak langsung, mengingat laki-laki seringkali menjadi pilar perekonomian di kawasan perkotaan.
Menghadapi kenaikan kemiskinan, salah satu faktor utama adalah lonjakan harga kebutuhan pokok seperti cabai, minyak goreng, dan bawang putih. Penduduk di kota yang tidak memproduksi kebutuhan sendiri sangat bergantung pada harga pasar, yang menjadi tantangan bagi daya beli mereka.
Ateng menjelaskan, ‘Penduduk kota identik tergantung dengan harga pasar karena penduduk kota kan umumnya tidak memproduksi sendiri sehingga kenaikan harga akan terpengaruh dengan daya beli terutama RT kelompok bawah ataupun miskin atau rentan miskin.’ Ini menunjukkan betapa sensitifnya masyarakat kota terhadap fluktuasi harga.
Di sisi lain, kemiskinan di pedesaan menunjukkan tren positif dengan penurunan dari 11,34% menjadi 11,03%. Ateng menyatakan bahwa penurunan ini erat kaitannya dengan meningkatnya nilai tukar petani, yang memberikan akses lebih baik terhadap pangan.
Ia mengungkapkan, ‘Desa memiliki akses ke pangan dan produksi lokal dapat mengamankan konsumsi.’ Hal ini menegaskan bahwa peningkatan kualitas pertanian dan akses pada sumber daya sangat berkontribusi dalam mengurangi angka kemiskinan di desa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: