Rabu, 08 OKTOBER 2025 • 16:31 WIB

Debat Seputar Aplikasi AI dalam Konteks Agama: Keterhubungan Spiritual atau Pelecehan Iman?

Author

Debat Seputar Aplikasi AI dalam Konteks Agama: Keterhubungan Spiritual atau Pelecehan Iman?

Sebuah aplikasi kecerdasan buatan bernama Text With Jesus telah memicu perdebatan tajam di kalangan komunitas agama. Aplikasi ini memungkinkan pengguna untuk berinteraksi dengan Yesus Kristus dan tokoh religius lainnya, menarik perhatian ribuan pelanggan berbayar.

Baca juga: Djokovic Melaju ke Semifinal US Open 2025 Usai Kalahkan Fritz

Namun, keberadaan aplikasi ini juga menuai kritik dari beberapa pihak yang merasa bahwa kehadirannya berpotensi melecehkan aspek spiritual. Hal ini menciptakan dilema antara inovasi teknologi dan nilai-nilai keagamaan yang dijunjung tinggi.

Deskripsi Aplikasi dan Reaksi Awal

Text With Jesus adalah aplikasi yang dikembangkan oleh Catloaf Software dengan klaim sebagai sarana edukasi spiritual interaktif. CEO perusahaan, Stephane Peter, mengemukakan bahwa aplikasi ini menawarkan cara baru untuk membahas isu keagamaan melalui interaksi.

Meski aplikasi ini menyatakan bahwa percakapan dihasilkan oleh AI, banyak pengguna yang merasakan interaksi tersebut sangat nyata, hingga pertanyaan kepada tokoh virtual sering kali tidak diakui sebagai hasil dari teknologi.

Teknologi GPT-5 yang digunakan dalam aplikasi ini memungkinkan percakapan yang lebih mendalam, namun hal ini juga menimbulkan keraguan di kalangan umat beragama mengenai keaslian dan tujuan interaksi dengan karakter virtual tersebut.

Baca juga: Kritik Terhadap Penangkapan Direktur Eksekutif Lokataru oleh Polisi

Pandangan Beragam Terhadap Penggunaan AI dalam Agama

Aplikasi ini mendapatkan ulasan positif dengan rating 4,7 dari 5 di platform seperti App Store, namun ada suara sumbang dari sekelompok umat beragama yang merasa penggunaan AI adalah suatu pelecehan terhadap iman. Christopher Costello, direktur teknologi informasi dari Catholic Answers, menegaskan, 'Kami tidak ingin menggantikan manusia. Kami hanya ingin membantu.'

Reaksi dari tokoh agama lainnya, seperti Rabbi Gilah Langner, menyoroti bahwa koneksi emosional dalam pendidikan agama tidak dapat digantikan oleh teknologi. Ia berkomentar, 'Saya rasa itu tidak bisa didapat dari AI. Mungkin hasilnya akan sangat bernuansa, tapi koneksi emosionalnya hilang.'

Di samping itu, aplikasi serupa juga mulai muncul di agama lain, seperti Deen Buddy untuk umat Islam dan Vedas AI untuk penganut Hindu, yang bertujuan sama yaitu membantu pemahaman kitab suci.

Respons Masyarakat dan Eksperimen dengan AI di Ibadah

Di kalangan masyarakat, beberapa pengguna seperti Nica, wanita berusia 28 tahun dari Filipina, melihat AI sebagai pelengkap pengetahuan keagamaan. Meskipun ada keraguan dari pendetanya, Nica tetap menganggap AI sebagai alat untuk memperoleh jawaban cepat tentang Alkitab.

Berbeda dengan pandangan tersebut, Emanuela, seorang pengguna aplikasi, mengungkapkan keluhan bahwa berbicara dengan chatbot tentang Tuhan tidaklah tepat. 'Orang yang ingin percaya kepada Tuhan sebaiknya tidak bertanya pada chatbot,' ujarnya di Katedral St. Patrick, New York.

Penggunaan AI dalam konteks ibadah juga menarik perhatian. Contohnya, Pendeta Jay Cooper dari Violet Crown City Church di Texas menggunakan AI untuk memimpin ibadah, namun pendekatan ini membuat beberapa anggota jemaah merasa risih.

Baca juga: Respons Google Terkait Isu Keamanan Gmail dan Phishing

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU