Inisiatif Standarisasi Pengisian Daya untuk Kendaraan Listrik di Indonesia
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah menggagas pengembangan plug dan socket berstandar nasional untuk kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) roda dua. Inisiatif ini bertujuan untuk mendorong interoperabilitas sistem pengisian daya dan mempercepat adopsi kendaraan listrik di Indonesia.
Baca juga: Kemenperin: Izin Penjualan iPhone 17 Belum Diterima, Namun Investasi Apple Terus Berjalan
Proses pengembangan ini kini berada dalam tahap pembahasan di Badan Standardisasi Nasional (BSN) dan diharapkan dapat diadopsi secara luas oleh produsen kendaraan listrik di tanah air.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Kelistrikan BRIN, Eka Rakhman Priandana, menegaskan bahwa saat ini tidak adanya standar untuk plug dan socket merupakan tantangan besar. 'Masalahnya sekarang, motor listrik merek A bisa ngecas di stasiun pengisian A, tapi belum tentu bisa di (stasiun pengisian) B atau C,' ujarnya.
Tanpa adanya standarisasi, pengguna kendaraan listrik berpotensi mengalami kesulitan dalam mencari stasiun pengisian. 'Pengguna akan menghadapi risiko tidak kompatibelnya kendaraan dengan stasiun pengisian yang tersedia,' explains Eka.
Eka juga menyoroti bahwa terdapat tiga faktor utama yang memperlambat adopsi kendaraan listrik secara global. 'Pertama, infrastruktur pengisian itu sedikit, bukan hanya jumlahnya tetapi juga masalah koneksi internet,' tuturnya.
Baca juga: DPR Hentikan Tunjangan Perumahan, Menjamin Transparansi Anggaran
Meskipun tantangan yang ada, perkembangan KBLBB di Indonesia menunjukkan tren yang positif. Menurut data dari Direktorat IMATAP Kementerian Perindustrian, diperkirakan hingga akhir 2025, jumlah kendaraan listrik bisa mencapai sekitar 333 ribu unit.
Dari angka tersebut, sepeda motor listrik menyumbang lebih dari 225 ribu unit. Namun, infrastruktur pengisian untuk kendaraan roda dua masih kurang berkembang, dengan skema penukaran baterai melalui Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU) yang mulai menghadapi tantangan seiring dengan pergeseran tren di kalangan konsumen.
Eka mengungkapkan bahwa tren motor listrik dengan baterai besar kini semakin terkenal. 'Motor yang baterainya besar ini tidak bisa ditukar. Berat baterainya bisa 20 sampai 25 kilogram, dan itu berbahaya kalau ditukar,' jelasnya.
BRIN berkomitmen untuk mengembangkan plug dan socket KBLBB roda dua yang terstandardisasi secara nasional. Penyiapan ini menjadi fondasi bagi pengembangan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) fast charging dengan acuan pada standar internasional IEC 62196-6 dan protokol komunikasinya pada IEC 61851-25.
'Dengan menstandardisasi plug dan socket, kita bisa mengakomodasi kendaraan listrik roda dua dengan baterai tertanam,' kata Eka, sembari menyoroti pentingnya investasi dalam infrastruktur pengisian yang komprehensif.
Pengembangan sistem fast charging ini berfokus pada komponen dalam negeri. 'Karena kontrolernya kami bikin sendiri, TKDN-nya bisa tinggi. Yang impor hanya power converter-nya,' ungkapnya.
Baca juga: Pemeriksaan Yaqut Cholil Qoumas oleh KPK Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: