Dua miliuner ternama, Elon Musk dan Jeff Bezos, tengah bersaing dalam upaya membangun pusat data kecerdasan buatan (AI) di luar angkasa.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Inisiatif ini memperlihatkan keseriusan dalam pengembangan teknologi untuk memenuhi kebutuhan komputasi berdaya tinggi di masa depan.
Pengembangan Pusat Data oleh Blue Origin
Perusahaan antariksa milik Jeff Bezos, Blue Origin, telah mengembangkan teknologi untuk membangun pusat data AI di luar angkasa selama lebih dari satu tahun. Proyek ini bertujuan untuk memanfaatkan ruang angkasa untuk komputasi berdaya tinggi.
Menurut laporan dari The Wall Street Journal, Bezos memprediksi bahwa pusat data berskala gigawatt dapat dibangun di luar angkasa dalam rentang waktu 10 hingga 20 tahun ke depan. Ia menilai keberadaan sumber energi surya yang terus menerus akan mampu mengurangi biaya operasional dan meningkatkan efisiensi lantaran pusat data di luar angkasa tidak terpengaruh oleh kebutuhan infrastruktur di Bumi.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China untuk Merayakan 80 Tahun Kemenangan Rakyat
Inovasi SpaceX dengan Teknologi Starlink
Sementara itu, SpaceX berencana meningkatkan kemampuan satelit Starlink dengan menampung muatan komputasi AI. Laporan dari New York Post mengaitkan inovasi ini dengan penilaian valuasi perusahaan sebesar US$800 miliar.
Meskipun Elon Musk membantah bahwa SpaceX sedang mencari pendanaan dengan valuasi tersebut, menilai informasi itu tidak akurat, perusahaan tetap fokus pada pengembangan teknologi yang mendukung inisiatif pusat data luar angkasa.
Tantangan dan Potensi Pusat Data di Ruang Angkasa
Permintaan akan listrik dan sumber daya untuk mendinginkan server di Bumi menjadi pendorong perhatian terhadap pusat data orbital. Perusahaan teknologi Google juga memiliki rencana untuk membangun pusat data di luar angkasa yang dijadwalkan pada awal tahun 2027.
Dengan memanfaatkan tenaga surya dan mengurangi biaya peluncuran roket, Google berharap dapat menempatkan sekitar 80 satelit bertenaga surya di orbit yang sesuai untuk memenuhi permintaan AI yang terus meningkat. Namun, tantangan seperti emisi karbon dari peluncuran roket dan dampak terhadap pengamatan astronomi tetap harus diperhitungkan.
Baca juga: Kericuhan di Bandung: Rincian Peristiwa Penembakan Gas Air Mata di Kawasan Tamansari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: