Krisis Air dan Dampak Kecerdasan Buatan: Tinjauan Terhadap Keterkaitan yang Semakin Kompleks
Pertemuan antara kecerdasan buatan (AI) dan krisis air bersih kini menjadi sorotan penting global. Penggunaan layanan chatbot seperti ChatGPT menunjukkan dampak signifikan terhadap ketersediaan air bersih di Bumi.
Baca juga: Kericuhan di Bandung: Rincian Peristiwa Penembakan Gas Air Mata di Kawasan Tamansari
Klaim mengenai konsumsi air oleh teknologi AI semakin meningkat, namun data ilmiah menyajikan pandangan yang lebih kompleks terkait hubungan ini.
Setiap interaksi dengan chatbot AI memerlukan kapasitas tinggi dari pusat data untuk memproses permintaan. Proses ini tidak hanya menghasilkan panas, tetapi juga memerlukan sistem pendingin yang menggunakan air bersih.
Sebuah studi dari University of California, Riverside mengungkapkan bahwa pelatihan model GPT-3 memerlukan hingga 700 ribu liter air, tergantung pada lokasi dan metode pendingin yang digunakan. Hal ini menyoroti besarnya dampak penggunaan air dalam pelatihan model AI.
Selain itu, rata-rata pengguna AI dapat menyedot antara 300 hingga 500 ml air per hari untuk 20 hingga 50 permintaan, memberikan gambaran dampak signifikan dari penggunaan kecerdasan buatan terhadap sumber daya air.
Baca juga: Aksi Unjuk Rasa Besar-Besaran Mahasiswa Dijadwalkan pada 2 September 2025
Laporan dari Analytics Vidhya yang ditulis oleh K.C. Sabreena Basheer mencatat peningkatan konsumsi air oleh teknologi AI yang patut dicermati. Konsumsi air Microsoft, misalnya, melonjak 34 persen dari 2021 ke 2022, sementara Google mencatat lonjakan 20 persen.
Peningkatan yang mencolok ini dapat menimbulkan krisis air global jika tidak dikelola dengan hati-hati. Dalam laporan tersebut, Basheer menekankan bahwa interaksi global yang tinggi dengan AI berkontribusi secara signifikan terhadap penggunaan air.
Dalam menghadapi tantangan ini, berbagai perusahaan teknologi sudah mengambil langkah mitigasi, mulai dari adopsi energi terbarukan hingga peninjauan sistem pendinginan yang lebih efisien.
International Energy Agency (IEA) memperkirakan bahwa konsumsi listrik untuk pusat data global, yang banyak digunakan untuk AI, bisa mencapai 900 TWh pada tahun 2026. Jika pasokan energi berasal dari bahan bakar fosil, jejak karbon yang dihasilkan akan meningkat secara signifikan.
Namun, beberapa klaim yang menyatakan bahwa AI menipiskan lapisan ozon tidak didukung oleh bukti ilmiah yang kuat. Penipisan ozon lebih berkaitan dengan senyawa kimia tertentu yang tidak secara langsung dipengaruhi oleh kegiatan AI.
Melihat isu-isu ini, industri teknologi mulai berkomitmen untuk mengurangi jejak ekologis dari operasi kecerdasan buatan, dengan fokus pada penghematan energi dan inovasi dalam metode pendinginan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: