BREAKING NEWS
|
KAMIS, 04/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Jumat, 14 NOVEMBER 2025 • 14:15 WIB

Krisis Air dan Dampak Kecerdasan Buatan: Tinjauan Terhadap Keterkaitan yang Semakin Kompleks

Krisis Air dan Dampak Kecerdasan Buatan: Tinjauan Terhadap Keterkaitan yang Semakin KompleksKrisis Air dan Dampak Kecerdasan Buatan: Tinjauan Terhadap Keterkaitan yang Semakin Kompleks

Pertemuan antara kecerdasan buatan (AI) dan krisis air bersih kini menjadi sorotan penting global. Penggunaan layanan chatbot seperti ChatGPT menunjukkan dampak signifikan terhadap ketersediaan air bersih di Bumi.

Baca juga: Kericuhan di Bandung: Rincian Peristiwa Penembakan Gas Air Mata di Kawasan Tamansari

Klaim mengenai konsumsi air oleh teknologi AI semakin meningkat, namun data ilmiah menyajikan pandangan yang lebih kompleks terkait hubungan ini.

Konsumsi Air dan Energi oleh Pusat Data AI

Setiap interaksi dengan chatbot AI memerlukan kapasitas tinggi dari pusat data untuk memproses permintaan. Proses ini tidak hanya menghasilkan panas, tetapi juga memerlukan sistem pendingin yang menggunakan air bersih.

Sebuah studi dari University of California, Riverside mengungkapkan bahwa pelatihan model GPT-3 memerlukan hingga 700 ribu liter air, tergantung pada lokasi dan metode pendingin yang digunakan. Hal ini menyoroti besarnya dampak penggunaan air dalam pelatihan model AI.

Selain itu, rata-rata pengguna AI dapat menyedot antara 300 hingga 500 ml air per hari untuk 20 hingga 50 permintaan, memberikan gambaran dampak signifikan dari penggunaan kecerdasan buatan terhadap sumber daya air.

Baca juga: Aksi Unjuk Rasa Besar-Besaran Mahasiswa Dijadwalkan pada 2 September 2025

Monitoring Penggunaan Air oleh Perusahaan Teknologi

Laporan dari Analytics Vidhya yang ditulis oleh K.C. Sabreena Basheer mencatat peningkatan konsumsi air oleh teknologi AI yang patut dicermati. Konsumsi air Microsoft, misalnya, melonjak 34 persen dari 2021 ke 2022, sementara Google mencatat lonjakan 20 persen.

Peningkatan yang mencolok ini dapat menimbulkan krisis air global jika tidak dikelola dengan hati-hati. Dalam laporan tersebut, Basheer menekankan bahwa interaksi global yang tinggi dengan AI berkontribusi secara signifikan terhadap penggunaan air.

Dalam menghadapi tantangan ini, berbagai perusahaan teknologi sudah mengambil langkah mitigasi, mulai dari adopsi energi terbarukan hingga peninjauan sistem pendinginan yang lebih efisien.

Pemanasan Global dan Pengelolaan Lingkungan

International Energy Agency (IEA) memperkirakan bahwa konsumsi listrik untuk pusat data global, yang banyak digunakan untuk AI, bisa mencapai 900 TWh pada tahun 2026. Jika pasokan energi berasal dari bahan bakar fosil, jejak karbon yang dihasilkan akan meningkat secara signifikan.

Namun, beberapa klaim yang menyatakan bahwa AI menipiskan lapisan ozon tidak didukung oleh bukti ilmiah yang kuat. Penipisan ozon lebih berkaitan dengan senyawa kimia tertentu yang tidak secara langsung dipengaruhi oleh kegiatan AI.

Melihat isu-isu ini, industri teknologi mulai berkomitmen untuk mengurangi jejak ekologis dari operasi kecerdasan buatan, dengan fokus pada penghematan energi dan inovasi dalam metode pendinginan.

Baca juga: Lari Malam: Manfaat, Risiko, dan Tips Keamanan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Krisis Air dan Dampak Kecerdasan Buatan: Tinjauan Terhadap Keterkaitan yang Semakin Kompleks

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!