Satelit Radar NISAR Resmi Mengorbit, Siap Kumpulkan Data Ilmiah
Satelit radar pengamatan bumi terbaru dari NASA, NISAR (NASA–ISRO Synthetic Aperture Radar), telah resmi mengorbit dan siap memasuki fase pengumpulan data ilmiah bulan ini.
Baca juga: Kemenperin: Izin Penjualan iPhone 17 Belum Diterima, Namun Investasi Apple Terus Berjalan
Dikembangkan sebagai kolaborasi antara NASA dan ISRO India, NISAR menjadi platform radar dual-band yang paling ambisius untuk pengamatan bumi.
Citra-citra awal yang dirilis oleh NASA menunjukkan kemampuan NISAR untuk merekam detail dengan akurasi tinggi.
Visualisasi wilayah Mount Desert Island di Maine memperlihatkan kontur penutup lahan dengan jelas, serta membedakan hutan dari lahan terbuka dan permukiman.
Di North Dakota, pola plot pertanian, sungai, dan hutan dapat diidentifikasi secara akurat bahkan untuk unit penggunaan lahan yang kecil.
Secara geospasial, hal ini menandai peningkatan signifikan dalam klasifikasi penutup lahan dan deteksi perubahan.
NISAR memiliki dua radar utama sebagai instrumen kunci, yaitu L-band dari NASA dan S-band dari ISRO.
Baca juga: DPR Hentikan Tunjangan Perumahan, Menjamin Transparansi Anggaran
L-band bekerja pada panjang gelombang 24 cm, mampu menembus kanopi hutan, mengukur kelembapan tanah, dan mendeteksi gerakan permukaan hingga fraksi inci.
Kemampuan ini memungkinkan pengawasan proses tektonik dan vulkanik dengan presisi yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan satelit sebelumnya.
Sementara itu, S-band beroperasi pada panjang gelombang 10 cm dan efektif dalam memantau agrikultur serta ekosistem padang rumput.
Antenna reflektor berdiameter 12 meter memberikan jangkauan swath 242 km, menjadikan NISAR cocok untuk pemetaan area luas dalam satu lintasan orbit.
Satelit ini berada pada orbit polar sun-synchronous di ketinggian 747 km dengan siklus ulang 12 hari.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: