Sabtu, 21 FEBRUARI 2026 • 21:22 WIB

Ritual Menyambut Ramadhan di Bali: Dari Megeng hingga Ngaminang

Author

Ritual Menyambut Ramadhan di Bali: Dari Megeng hingga Ngaminang

Masyarakat Bali menyambut bulan suci Ramadhan dengan beragam tradisi yang menonjolkan kearifan lokal dan spiritualitas. Meskipun mayoritas penduduknya menganut agama Hindu, umat Islam di Bali tetap melestarikan ritual yang memperkuat tali persaudaraan.

Baca juga: Djokovic Melaju ke Semifinal US Open 2025 Usai Kalahkan Fritz

Menjelang Ramadhan 1447 Hijriah, yang jatuh pada Kamis (19/2/2026), tradisi seperti Megengan, Megibung, dan Ngaminang menjadi contoh nyata dari akulturasi budaya di pulau Dewata.

Tradisi Megengan

Tradisi Megengan berasal dari Jawa, khususnya Jawa Timur, dan telah diadaptasi oleh umat Islam di Bali. Dalam tradisi ini, setelah shalat Maghrib, masyarakat melakukan kenduri yang melibatkan keluarga dan tetangga.

Sebelum kenduri dimulai, warga mengumpulkan sedekah makanan untuk dibagikan. Mereka juga menuliskan nama-nama leluhur yang akan didoakan saat pembacaan doa.

Acara tersebut dilanjutkan dengan tahlilan akbar dan sesi makan bersama yang penuh kehangatan. Megengan bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga menjadi sarana untuk memanjatkan doa dan menjaga hubungan sosial di masyarakat.

Baca juga: Kemenperin: Izin Penjualan iPhone 17 Belum Diterima, Namun Investasi Apple Terus Berjalan

Tradisi Megibung

Megibung adalah tradisi makan bersama yang dilestarikan oleh masyarakat Bali, terutama di Kabupaten Karangasem. Kegiatan ini melibatkan warga yang berkumpul di satu tempat untuk menyantap hidangan tradisional.

Tradisi ini biasanya diadakan sebelum dan selama bulan puasa, sebagai simbol kekeluargaan. Ibu-ibu di lingkungan setempat bergotong-royong memasak dan menyediakan berbagai lauk-pauk khas Bali.

Setelah menjalankan shalat Maghrib, peserta dibagi ke dalam kelompok untuk menikmati hidangan. Megibung mendukung interaksi sosial di kalangan komunitas Islam di Bali.

Tradisi Ngaminang

Ngaminang adalah tradisi yang mempererat silaturahmi di kalangan umat Islam, khususnya di Kampung Gelgel, Klungkung. Istilah 'ngaminang' berarti mengamini, dan menggambarkan praktik bersama menjelang Ramadhan.

Ibu-ibu desa menyiapkan hidangan yang disedekahkan ke masjid untuk dilakukan doa bersama. Tokoh agama setempat memimpin doa khusus untuk meminta berkah bagi pelaksanaan puasa.

Setelah membaca doa, seluruh jamaah mengucapkan 'aamiin' dan duduk dalam kelompok untuk menyantap hidangan. Tradisi ini menekankan nilai-nilai kebersamaan.

Baca juga: Kritik Terhadap Penangkapan Direktur Eksekutif Lokataru oleh Polisi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU