Bubur Manado, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tinutuan, adalah hidangan khas dari Sulawesi Utara yang menyimpan cerita menarik di balik kelezatannya.
Baca juga: Prabowo Subianto Tetap Berangkat ke China Setelah Situasi Stabil
Lebih dari sekadar santapan, bubur ini mencerminkan kekayaan budaya dan tradisi masyarakat setempat.
Asal Usul Bubur Manado
Bubur Manado berasal dari daerah Manado, Sulawesi Utara, dan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat setempat selama bertahun-tahun.
Nama Tinutuan diambil dari kata 'tinutuan', yang berarti matang, menggambarkan tekstur lembut bubur ini ketika disajikan.
Hidangan ini terbuat dari beras yang dimasak dengan air dan campuran berbagai sayuran, seperti daun kangkung, labu kunir, dan singkong, yang menambah cita rasa segar dan khas.
Baca juga: Presiden Prabowo Subianto Temui Pimpinan Serikat Pekerja: Diskusi Aksi Buruh dan RUU Perampasan Aset
Komponen dan Filosofi Bubur Manado
Setiap bahan dalam Bubur Manado memiliki makna tersendiri, di mana sayuran hijau melambangkan kesegaran dan keterhubungan dengan alam.
Pemilihan bahan lokal yang beragam menunjukkan kekayaan sumber daya alam Indonesia yang melimpah.
Umumnya, bubur ini disajikan dengan ikan atau ayam serta sambal, menambah kedalaman rasa dan pengalaman kuliner yang lebih kaya.
Bubur Manado Dalam Budaya dan Tradisi
Di Manado, Bubur Manado memiliki peran penting dalam berbagai acara adat dan perayaan, menunjukkan betapa krusialnya hidangan ini bagi masyarakat.
Hidangan ini biasanya disajikan saat syukuran atau pesta, menjadi simbol kebersamaan dan kebahagiaan dalam komunitas.
Tidak hanya disukai oleh masyarakat lokal, banyak wisatawan juga datang untuk merasakan keunikan rasa dan budaya yang ditawarkan oleh Bubur Manado.
Baca juga: Penjarahan di Rumah Eko Patrio, Polisi Selidiki Kasus Tersebut
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: