Menggali Konsep 'Soft Life' yang Tengah Tren di Media Sosial
Belakangan ini, istilah 'soft life' ramai dibicarakan di berbagai platform media sosial, menarik perhatian banyak orang terhadap konsep ini.
Baca juga: Kritik Terhadap Penangkapan Direktur Eksekutif Lokataru oleh Polisi
Pada dasarnya, 'soft life' merujuk pada gaya hidup lebih santai yang menempatkan kesehatan mental sebagai prioritas utama.
Istilah 'soft life' berasal dari budaya pop dan media sosial, khususnya di kalangan generasi muda. Konsep ini berakar dari keinginan untuk menjauh dari tekanan kehidupan yang keras, berfokus pada kebahagiaan.
Di tengah kesibukan yang semakin meningkat, banyak orang merasa tertekan dan mencari cara untuk mengurangi beban rutinitas kerja. 'Soft life' menawarkan alternatif, yaitu mengeksplorasi sisi lebih ringan dari kehidupan.
Platform seperti Instagram dan TikTok telah memainkan peran penting dalam mempopulerkan gaya hidup ini. Influencer sering membagikan momen-momen santai dalam hidup mereka, mendorong pengikut untuk mengikuti jejak yang sama.
Baca juga: Pimpinan DPR RI Bertemu Mahasiswa, Bahas Isu Tunjangan dan Investigasi
Salah satu dampak positif dari gaya hidup 'soft life' adalah peningkatan kesehatan mental. Dengan mengurangi stres, banyak orang merasa lebih bahagia dan terbuka terhadap pengalaman baru.
Menurut seorang psikolog ternama, 'Menyisihkan waktu untuk diri sendiri dan menikmati momen kecil dapat meningkatkan kesejahteraan kita.' Pernyataan ini menegaskan pentingnya menemukan keseimbangan dalam hidup.
Dengan gaya hidup ini, orang menjadi lebih sadar akan diri dan meluangkan waktu untuk hal-hal yang mereka sukai, jadi sangat relevan di era di mana banyak orang terjebak dalam rutinitas yang menuntut.
Di Indonesia, popularitas 'soft life' terlihat dari konten yang merayakan kebahagiaan sederhana. Kegiatan seperti berkumpul dengan teman, liburan ke tempat nyaman, dan menikmati makanan enak dianggap sebagai bagian dari gaya hidup yang menyenangkan.
Budaya sosial yang kuat di Indonesia mendukung gaya hidup ini. Berbagai event dan workshop tentang relaksasi, meditasi, dan self-care semakin berkembang pesat.
Namun, tidak sedikit kritik yang mengatakan bahwa 'soft life' bisa menjadi bentuk escapism, di mana individu menghindari tanggung jawab. Meski demikian, banyak orang tetap berkomitmen menjalani kehidupan dengan cara lebih bahagia dan sederhana.
Baca juga: Tips Menciptakan Kamar Kecil yang Cozy dan Nyaman
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: