santaitalks.com – Mengaku suka waktu sendiri sepertinya adalah hal yang biasa, tetapi kenyataan bisa berbeda jauh saat seseorang ditinggal sendirian. Rasa panik dan kesepian dapat muncul, meski awalnya ingin menikmati waktu sendiri.
Fenomena ini banyak dialami milenial dan gen Z, terutama yang terpapar budaya sosial media. Meskipun berbagi momen bersendirian dengan senyum, realitasnya sering kali mereka merasa terasing dan cemas ketika harus menghadapi kesendirian.
Banyak orang yang mengaku menikmati waktu sendiri dengan berbagai aktivitas, seperti membaca buku atau menonton film favorit. Namun, ketika harus bersendirian tanpa distraksi, perasaan sepi dan panik sering kali muncul tiba-tiba.
Stres dan kecemasan bisa disebabkan oleh pikiran negatif yang datang saat sendirian. Tanpa gangguan, orang cenderung merenungkan masalah yang ada, sehingga memperburuk perasaan cemas yang dialami.
Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain. Meski menikmati kesendirian, kebutuhan emosional untuk terhubung tetap ada.
Ketika jauh dari lingkaran sosial, seorang individu dapat merasa terisolasi. Hal ini semakin parah di era digital, di mana interaksi langsung berkurang dan hubungan yang ada cenderung terasa superfisial.
Mengatasi rasa panik saat sendirian memang tidak mudah, tetapi ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah dengan berpartisipasi dalam kegiatan yang disenangi, seperti berolahraga atau mengeksplorasi hobi.
Mengatur waktu dengan baik juga dapat membantu; misalnya, membuat jadwal seimbang antara waktu sendiri dan bersosialisasi dengan teman. Ini bisa meminimalisir rasa cemas saat berhadapan dengan kesendirian.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: